JBNews.id — Gempa bumi dahsyat kembali mengguncang Jepang. Sebuah gempa berkekuatan magnitudo 6,8 melanda Prefektur Kumamoto pada Selasa lalu, menewaskan sedikitnya 13 orang dan meninggalkan kekhawatiran masih ada warga yang terjebak di bawah reruntuhan. Peristiwa ini sekali lagi menguji batas antara kecanggihan teknologi dan kekuatan alam yang tak terbendung.
Jepang, yang terletak di pertemuan empat lempeng tektonik dan berada di kawasan Cincin Api Pasifik, adalah salah satu negara yang paling sering diguncang gempa bumi merusak di dunia. Investasi miliaran dolar telah dikucurkan untuk teknologi pendeteksi gempa mutakhir, sistem tanggap darurat, dan infrastruktur tahan gempa. Namun, seperti yang terlihat di Kumamoto, alam masih selalu punya kejutan.
Kepolisian dan pemadam kebakaran bekerja sama dengan militer dalam operasi penyelamatan. “Warga masih menunggu pertolongan dan setiap detik sangat berharga,” ujar Perdana Menteri Sanae Takaichi. Kumamoto sendiri baru saja pulih dari gempa lebih besar pada tahun 2016 yang menewaskan lebih dari 270 orang.
Bagi penduduk Jepang, gempa adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak berlatih simulasi gempa dan evakuasi sejak taman kanak-kanak. Meski demikian, ancaman tersebut tetap membayangi benak publik. Gempa yang terjadi pekan ini menjadi pengingat pahit bahwa tidak ada teknologi yang bisa sepenuhnya melindungi manusia dari amukan alam.
Sejarah Panjang Bencana Gempa di Jepang
Sejarah Jepang dipenuhi dengan gempa bumi yang menghancurkan. Sepanjang era klasik dan feodal, gempa rutin melanda kota besar maupun kecil, menyapu bangunan berbahan kayu dan kertas yang rentan terhadap kebakaran pascagempa. Salah satu gempa sangat merusak pada tahun 1498 diperkirakan menewaskan lebih dari 30.000 orang.
Gempa Besar Kanto tahun 1923 menjadi momen kelam lainnya, meluluhlantakkan sebagian besar Tokyo dan menewaskan sekitar 140.000 orang. Jepang mulai memberlakukan standardisasi bangunan tahan gempa lebih ketat pada tahun 1980-an, yang terbukti efektif saat gempa Kobe tahun 1995 yang menewaskan lebih dari 6.000 orang. Hampir seluruh bangunan yang runtuh saat itu dibangun sebelum adanya aturan baru.
Hal ini memicu dorongan besar untuk meningkatkan ketahanan terhadap gempa dan merekonstruksi bangunan lama agar sesuai standar baru. Sebagai salah satu negara terkaya di dunia, Jepang memiliki kapasitas untuk memanfaatkan teknologi dan anggaran dalam mengantisipasi gempa. Namun, kecanggihan teknologi tetap memiliki keterbatasan.
Bencana Tohoku tahun 2011 dengan gempa bumi bermagnitudo 9,1 dan tsunami, menewaskan hampir 20.000 orang. Ribuan lainnya tidak pernah ditemukan. Gempa dengan skala lebih kecil pun secara rutin masih dapat memakan korban jiwa. Gempa bumi bermagnitudo 7,1 menewaskan lebih dari 700 orang di Noto, Jepang barat, pada tahun 2024.
“Sekitar 10% gempa di dunia dengan magnitudo 6 ke atas terjadi di atau sekitar Jepang, sehingga risikonya jauh lebih tinggi dibanding tempat seperti Eropa atau bagian timur Amerika Serikat, di mana gempa jarang terjadi,” ungkap Shoichi Yoshioka, profesor di Universitas Kobe.
“Setiap kali menyaksikan hilangnya nyawa secara tragis, gedung hancur, dan tsunami, meninggalkan kesan ketakutan mendalam. Ketakutan ini kemungkinan besar dirasakan banyak warga. Saya rasa inilah faktor signifikan yang mendorong mengapa Jepang begitu siap siaga,” imbuhnya.
Baca Juga:
Teknologi Canggih vs Kekuatan Alam
Investasi Jepang dalam teknologi mitigasi gempa memang luar biasa. Sistem peringatan dini gempa bumi (Earthquake Early Warning/EEW) Jepang adalah salah satu yang terbaik di dunia, mampu memberikan peringatan beberapa detik hingga puluhan detik sebelum guncangan utama tiba. Infrastruktur seperti gedung pencakar langit dilengkapi dengan peredam gempa canggih, sementara jaringan kereta cepat Shinkansen dapat berhenti secara otomatis dalam hitungan detik saat gempa terdeteksi.
Namun, gempa di Kumamoto menunjukkan bahwa teknologi ini bukanlah jaminan mutlak. Bangunan-bangunan tua yang belum diperkuat sesuai standar terbaru masih rentan runtuh. Jalanan dan jembatan yang rusak dapat memperlambat upaya penyelamatan. Bahkan dengan sistem peringatan dini yang canggih, waktu yang tersedia seringkali tidak cukup untuk evakuasi massal di daerah padat penduduk.
Perbandingan dengan negara lain juga relevan. Di Indonesia, misalnya, Gempa M 6,7 Palu baru-baru ini menunjukkan bagaimana infrastruktur telekomunikasi bisa lumpuh total, memperlambat koordinasi bantuan. Sementara itu, penelitian terbaru dari BRIN mengungkapkan bahwa ancaman gempa di Jawa ternyata lebih besar dari perkiraan sebelumnya, menekankan pentingnya kesiapsiagaan.
Di sisi lain, fenomena alam yang unik juga terus dipelajari. Tim ilmuwan baru-baru ini mendeteksi gempa ratusan kali terdeteksi di bawah lapisan es Antartika, menunjukkan bahwa aktivitas seismik terjadi di berbagai tempat yang tak terduga. Bahkan dengan teknologi satelit canggih seperti yang digunakan untuk mendeteksi deformasi tanah di Venezuela, prediksi gempa yang akurat masih menjadi tantangan besar bagi ilmu pengetahuan modern.
Implikasi untuk Pembaca
Pelajaran dari Jepang sangat jelas: kesiapsiagaan adalah kunci, tetapi tidak ada jaminan keselamatan mutlak. Bagi negara-negara yang berada di kawasan rawan gempa seperti Indonesia, investasi dalam infrastruktur tahan gempa dan sistem peringatan dini harus menjadi prioritas. Selain itu, edukasi publik tentang prosedur evakuasi dan keselamatan saat gempa harus dimulai sejak dini, seperti yang dilakukan Jepang sejak taman kanak-kanak.
Gempa Kumamoto juga mengingatkan kita bahwa setiap detik sangat berharga dalam operasi penyelamatan. Kerjasama antara berbagai lembaga—kepolisian, pemadam kebakaran, dan militer—sangat penting untuk meminimalkan korban jiwa. Teknologi memang canggih, tetapi pada akhirnya, kesiapan manusia dan respons cepat yang menentukan seberapa besar dampak dari sebuah bencana alam.
Bagi warga Jawa Barat dan Banten, yang juga berada di zona rawan gempa, peristiwa ini adalah pengingat untuk selalu waspada. Memahami risiko, menyiapkan tas siaga bencana, dan mengetahui jalur evakuasi terdekat adalah langkah-langkah sederhana namun krusial yang bisa menyelamatkan nyawa.




