Fisikawan Usulkan Bintang Mati Jadi Alam Semesta Baru

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi alam semesta mini yang terbentuk dari keruntuhan bintang masif
  • Dua fisikawan dari Goethe University Frankfurt usulkan teori baru tentang nasib bintang masif
  • Teori menyatakan bintang mati bisa melahirkan alam semesta mini berenergi gelap, bukan lubang hitam
  • Alam semesta baru berada di inti objek yang disebut gravastar
  • Energi gelap memberikan tekanan ke luar yang menstabilkan gravastar
  • Teori ini tidak menyangkal keberadaan lubang hitam, hanya menawarkan alternatif
  • Peneliti menekankan pentingnya eksplorasi ilmiah yang tidak bias

JBNews.id — Dua fisikawan dari Goethe University Frankfurt mengusulkan teori baru yang menyatakan bahwa kematian bintang masif tidak selalu berujung pada lubang hitam, melainkan dapat melahirkan alam semesta mini yang sarat energi gelap. Teori ini diterbitkan dalam jurnal Physical Review D.

Peneliti Daniel Jampolski dan Luciano Rezzolla mengemukakan bahwa ketika bintang raksasa kehabisan bahan bakar nuklir, alih-alih runtuh total menjadi lubang hitam, bintang tersebut dapat berhenti pada titik hampir runtuh. Pada titik ini, energi gelap memberikan tekanan ke luar yang menyeimbangkan gravitasi, mencegah keruntuhan total.

“Ledakan Besar dari alam semesta yang muncul dapat terjadi setelah bintang hampir runtuh hingga menjadi lubang hitam,” jelas Jampolski dalam pernyataan resmi. Teori ini membangun jalur alternatif bagi bintang raksasa yang sekarat.

Alih-alih menjadi lubang hitam dengan kepadatan tak terhingga, bintang mencapai keseimbangan saat energi gelapnya mendorong ke belakang tahap akhir keruntuhan. Kondisi ini mirip dengan batu bata yang mencegah pintu garasi menutup sepenuhnya.

Secara spesifik, alam semesta baru akan berada di inti objek yang disebut “gravastar.” Gravastar telah dipahami sebelumnya sebagai objek dengan inti yang terbuat dari energi gelap, kekuatan kosmik hipotetis yang diperkirakan mencakup sekitar 68 persen dari total konten energi-massa alam semesta yang diketahui.

Kondisi saat gravastar terbentuk, menurut Jampolski dan Rezzolla, tidak jauh berbeda dengan kondisi saat Ledakan Besar terjadi miliaran tahun lalu. Tekanan dari energi gelap memberikan tekanan ke luar yang cukup untuk menstabilkan gravastar, menghentikannya dari keruntuhan lebih lanjut.

Dengan energi gelap yang cukup, gaya gravitasi ini dapat diseimbangkan, menghasilkan gravastar yang stabil. Jenis tekanan ke luar yang sama mendorong ekspansi alam semesta kita sendiri, menurut model saat ini.

Para peneliti menekankan bahwa teori mereka tentang pembentukan gravastar yang stabil tidak serta merta menyangkal keberadaan lubang hitam. “Mencari alternatif lubang hitam tidak boleh menunjukkan skeptisisme terhadap lubang hitam, yang masih mewakili solusi paling alami dan paling sederhana untuk nasib keruntuhan gravitasi,” argumen Rezzolla.

“Namun, sebagai ilmuwan pada umumnya, dan sebagai fisikawan teoretis pada khususnya, sangat penting untuk menjaga pendekatan yang tidak bias terhadap apa yang tidak kita ketahui dan karenanya mengeksplorasi baik kebijaksanaan yang diterima maupun interpretasi yang lebih eksotis,” tambahnya. “Sejarah mengajarkan kita bahwa tidak jarang yang terakhir menjadi yang pertama.”

Teori ini membuka kemungkinan baru dalam memahami nasib bintang masif. Jika terbukti benar, gravastar dapat menjadi objek astronomi yang sepenuhnya baru, berbeda dari lubang hitam. Implikasinya bagi fisika fundamental sangat besar, karena menantang pemahaman kita tentang ruang, waktu, dan asal-usul alam semesta.

Bagi pembaca, teori ini mengingatkan bahwa batas pengetahuan manusia terus bergerak. Apa yang dianggap mustahil hari ini, bisa menjadi kebenaran ilmiah di masa depan. Alam semesta, ternyata, masih menyimpan lebih banyak misteri daripada yang bisa kita bayangkan.