Etika Memakai Smart Glasses: Boleh Rekam, Wajib Izin

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Lampu indikator kamera pada smart glasses sebelum dan sesudah aktif merekam
  • Kasus kreator konten merekam usher GIIAS 2026 tanpa izin memicu kritik luas
  • Wasa Wirman: smart glasses dirancang untuk dokumentasi aktivitas pribadi, bukan merekam diam-diam
  • Kamera Ray-Ban Meta terlihat dari depan dengan lampu LED indikator saat aktif
  • Smart glasses ideal untuk konten POV: traveling, bersepeda, unboxing, review produk
  • Wajib minta izin jika wajah seseorang menjadi fokus utama konten
  • Hormati petugas pameran, SPG, SPB, dan usher yang sedang bekerja
  • Konten 'cara deketin cewek' dinilai dipaksakan dan tidak mendidik
  • Kreator tidak pantas minta ganti biaya produksi saat diminta hapus video
  • Penyelenggara acara perlu menyusun panduan penggunaan kamera wearable
  • Edukasi dan penegakan aturan lebih penting daripada regulasi baru

JBNews.id — Kasus kreator konten yang merekam seorang usher di GIIAS 2026 menggunakan smart glasses tanpa izin memicu perdebatan luas soal privasi di ruang publik. Tech reviewer Wasa Wirman menegaskan bahwa perangkat seperti Ray-Ban Meta sebenarnya dirancang untuk mendokumentasikan aktivitas pengguna, bukan merekam orang lain secara diam-diam. Kemudahan teknologi ini harus diimbangi dengan tanggung jawab etika dari setiap penggunanya.

Perdebatan ini bermula dari unggahan video yang memperlihatkan seorang kreator merekam interaksinya dengan usher pameran menggunakan kacamata pintar. Rekaman tersebut diunggah dengan narasi ‘cara deketin cewek’ dan langsung menuai kritik tajam dari warganet. Banyak yang menilai tindakan tersebut melanggar etika serta privasi orang yang direkam tanpa persetujuan.

Wasa Wirman, yang kerap mengulas perangkat teknologi, menjelaskan bahwa kamera pada smart glasses sebenarnya tidak sepenuhnya tersembunyi. “Kalau ngomongin Ray-Ban Meta, sebenarnya kameranya nggak benar-benar tersembunyi. Dari depan masih kelihatan dua bulatan kamera di dekat engsel, dan saat merekam juga ada lampu LED sebagai indikator,” ujarnya kepada detikINET. Keberadaan lampu indikator ini dirancang agar orang di sekitar mengetahui saat kamera sedang aktif, sehingga membantu menjaga privasi semua pihak.

Smart Glasses untuk Konten POV yang Natural

Wasa menilai keunggulan utama smart glasses bukan untuk merekam orang lain, melainkan menghasilkan konten POV yang lebih natural. Perangkat ini cocok digunakan saat traveling, berjalan kaki, mengendarai sepeda, hingga membuat video unboxing atau review produk. Pengguna tidak perlu lagi membawa tripod, bracket ponsel, atau kamera mirrorless hanya untuk mengambil rekaman singkat.

“Yang paling beda tentu perspektifnya. Penonton bisa melihat persis apa yang dilihat kreatornya, jadi terasa lebih natural dibanding pakai HP atau action camera,” katanya. Karena itu, menurut Wasa, smart glasses lebih tepat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan aktivitas pribadi daripada menjadikan orang lain sebagai objek utama konten.

Wasa Wirman, Tech Reviewer

Perkembangan teknologi wearable memang semakin pesat. Produsen besar terus menghadirkan inovasi baru di segmen ini. Kabar terbaru menyebutkan Apple siapkan smart glasses pertama untuk WWDC 2027, menandakan persaingan di pasar kacamata pintar akan semakin ketat. Sementara itu, pemain lain seperti Garmin juga merilis perangkat wearable terbaru dengan pendekatan berbeda.

Minta Izin Sebelum Merekam Orang

Wasa menekankan batas yang harus dipahami setiap kreator ketika menggunakan kamera wearable di ruang publik. Apabila seseorang hanya melintas di latar belakang, hal tersebut masih tergolong wajar. Namun situasinya berbeda jika wajah seseorang menjadi fokus utama konten.

“Kalau orangnya jadi inti cerita, menurut saya lebih baik minta izin dulu. Kasih tahu mau bikin konten dan merekam pakai kacamata ini. Kalau mereka berkenan ya lanjut, kalau tidak ya jangan dipaksa,” ujarnya. Ia juga mengingatkan agar kreator menghormati para petugas pameran, SPG, SPB, maupun usher yang sedang bekerja. “Mereka berdiri seharian untuk bekerja. Etika dan adab harus dipikirkan juga, jangan egois,” tambahnya.

Etika bermedia sosial menjadi semakin penting seiring maraknya konten yang mengutamakan sensasi dibanding nilai edukasi. Belakangan muncul konten yang merekam orang asing menggunakan smart glasses lalu diunggah dengan narasi seperti ‘cara mendekati cewek’. Wasa mengaku tidak pernah terpikir membuat konten semacam itu. Menurutnya, masih banyak ide konten teknologi yang lebih bermanfaat daripada mengejar perhatian lewat pelanggaran privasi.

“Konten seperti itu menurut saya dipaksakan dan tidak mendidik. Masih banyak konten yang lebih bermanfaat daripada ‘cara deketin cewek’,” katanya. Ia juga menilai tidak pantas jika kreator meminta ganti biaya produksi ketika diminta menghapus video yang melanggar privasi orang lain. “Hahaha… nggak wajar lah. Orang yang direkam saja juga nggak dapat apa-apa,” ujarnya.

Edukasi dan Aturan yang Jelas

Menurut Wasa, komunitas kreator sudah saatnya memiliki kebiasaan sederhana saat menggunakan smart glasses, yakni selalu meminta izin sebelum menjadikan seseorang sebagai objek utama konten. Di sisi lain, penyelenggara acara juga bisa mulai menyusun panduan yang lebih jelas mengenai penggunaan kamera wearable karena teknologi ini semakin umum digunakan.

Meski belum tentu membutuhkan regulasi baru, ia menilai edukasi dan penegakan aturan yang sudah ada jauh lebih penting saat ini. “Teknologi makin ke sini makin smart. Karena itu etika sebagai kreator juga harus ikut smart. Jangan sampai demi konten kita mengabaikan rasa nyaman orang lain,” tutupnya.

Adopsi teknologi wearable di Indonesia terus meningkat seiring dengan hadirnya berbagai perangkat baru di pasar. Produsen seperti UGreen misalnya, baru saja merilis power bank hingga smart tracker terbaru, menunjukkan ekosistem perangkat pintar semakin lengkap. Sementara itu, regulasi terkait penggunaan teknologi juga terus berkembang, termasuk aturan Komdigi terbaru yang dinantikan sektor telekomunikasi.

Kasus di GIIAS 2026 ini menjadi momentum penting bagi industri konten di Indonesia. Kreator dituntut lebih bijak dalam menggunakan teknologi, sementara penyelenggara acara perlu menyiapkan panduan yang jelas. Privasi adalah hak setiap individu yang tidak bisa dikorbankan demi konten semata.