JBNews.id — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak akhir Mei 2026 telah mendorong lonjakan permintaan AC portabel buatan China. Produsen seperti Midea Group pun memacu produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen di negara-negara dengan tingkat penetrasi AC yang rendah.
Di sebuah pabrik Midea Group di distrik Shunde, Foshan, provinsi Guangdong, para pekerja lembur untuk menggenjot produksi AC split portabel. Unit-unit tersebut diangkut melalui kereta barang China-Eropa untuk memenuhi permintaan puncak musim panas Eropa. Pengiriman dengan kereta sekitar 25 hari lebih cepat dibanding jalur laut.
“Kami memanfaatkan kemampuan manufaktur yang fleksibel untuk merespons dengan cepat permintaan AC semacam itu dari para konsumen di Eropa,” kata Xiong Xueqin, Direktur Penjualan Midea RAC Wilayah Eropa. “Begitu tiba di pelabuhan luar negeri, anak perusahaan lokal membantu memproses bea cukai untuk segera mendistribusikannya ke ritel,” ujar Xiong.
Inovasi AC Split Portabel Midea
Rumah tangga di Eropa sudah lama menghadapi tantangan saat memilih AC. AC portabel tradisional sering kali berukuran besar dan bising, sementara AC split banyak dikritik karena biaya pemasangan mahal dan proses instalasi makan waktu lama. AC split portabel milik Midea, dikenal sebagai PortaSplit, mengatasi tantangan-tantangan ini.
PortaSplit terinspirasi dari riset jangka panjang Midea terhadap kebutuhan dan kebiasaan konsumen Eropa, beserta pemahamannya mengenai karakteristik arsitektur lokal. “Motivasi untuk mengembangkan produk ini adalah guna mengatasi masalah utama di pasar Eropa, di mana gelombang panas sering terjadi, tapi tingkat penetrasi AC masih rendah,” kata Zhao Ali, Manajer Produk Eropa Midea.
Midea perlu tiga tahun mengembangkan AC split portabel ini, yang pertama kali dijual di Jerman tahun 2024. PortaSplit menawarkan pemasangan tanpa memerlukan peralatan khusus, yang memungkinkan pengguna untuk memasang dan mengoperasikan unit tersebut dengan cepat tanpa bantuan teknisi profesional, sehingga secara signifikan mempermudah penggunaannya.
Selain itu, produk ini dirancang dengan struktur khusus agar pas dengan jendela bangunan bersejarah di Eropa untuk pendinginan dan pemanasan ruangan yang efektif, sembari mempertahankan estetika bangunan. Ia diklasifikasikan sebagai furnitur dan bukan instalasi tetap, menghindari larangan modifikasi fasad di kota seperti Paris.
Baca Juga:
Dominasi Merek China di Pasar Eropa
Di negara-negara seperti Prancis, Spanyol, Jerman, dan Inggris, di mana tingkat penetrasi AC secara historis tergolong rendah, penjualannya telah melonjak lebih dari 70 persen secara tahunan sejak awal tahun ini. Produsen peralatan rumah tangga China lainnya, Gree Electric Appliances, juga menyebut tingkat persediaan AC portabel di gudang-gudang distributor mereka di pasar Eropa semakin menipis.
Menurut mereka, AC portabel pasang dan pakai yang dikenal karena fleksibilitasnya terjual habis di berbagai saluran distribusi Eropa. Tidak satu pun lima merek AC terlaris di Eropa berasal dari Uni Eropa. Haier Group, Gree Electric Appliances, dan Midea Group, semuanya dari China, bersama-sama menguasai sekitar 32% pasar Eropa pada tahun 2025, menurut Euromonitor International. Sementara Beko dari Turki dan Daikin Industries dari Jepang melengkapi daftar lima besar.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana Dominasi AC China di pasar Eropa semakin kuat. Inovasi produk yang mampu menjawab tantangan spesifik konsumen Eropa, seperti kemudahan instalasi dan desain yang ramah terhadap bangunan bersejarah, menjadi kunci utama kesuksesan mereka.
Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa menjadi katalis yang mempercepat adopsi AC di kawasan tersebut. Data menunjukkan bahwa Permintaan AC dan Kipas Angin meroket seiring suhu yang memecahkan rekor. Dampak dari gelombang panas ini sangat serius, bahkan Gelombang Panas Eropa Tewaskan 1.300 Jiwa, menurut peringatan WHO.
Bagi konsumen Eropa, kehadiran AC inovatif dari China seperti PortaSplit bukan sekadar barang elektronik, melainkan solusi praktis di tengah krisis iklim yang semakin nyata. Produk ini mengubah paradigma bahwa AC adalah barang mewah yang sulit dipasang, menjadi kebutuhan yang mudah diakses oleh semua kalangan.
Implikasinya, persaingan di pasar AC Eropa diprediksi akan semakin ketat. Produsen China yang sudah menguasai hampir sepertiga pasar, terus berinovasi untuk mempertahankan dominasi mereka. Sementara itu, konsumen Eropa diuntungkan dengan hadirnya produk-produk yang lebih efisien, mudah digunakan, dan ramah terhadap lingkungan serta estetika bangunan.




