Data Center AI di Luar Angkasa Dikritik Ilmuwan

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi astronot melakukan spacewalk di luar International Space Station (ISS) dengan latar Bumi yang terlihat dari orbit
  • Lebih dari 100 ilmuwan, pakar antariksa, dan organisasi lingkungan meminta regulator AS melakukan kajian dampak lingkungan sebelum proyek data center AI di luar angkasa diizinkan
  • SpaceX dan perusahaan antariksa lain mengusulkan data center di orbit dengan tenaga panel surya untuk mengurangi beban listrik di Bumi
  • Kekhawatiran utama mencakup bertambahnya sampah antariksa, risiko tabrakan satelit, dan perubahan atmosfer Bumi
  • Tantangan teknis meliputi pembuangan panas di ruang hampa, radiasi kosmik, dan kesulitan perbaikan perangkat
  • Proposal membayangkan konstelasi ratusan ribu hingga lebih dari satu juta satelit untuk menopang komputasi AI
  • Para ilmuwan menegaskan konsep ini masih tahap awal dan membutuhkan kajian ilmiah komprehensif

JBNews.id — Gagasan membangun data center kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa mulai mendapat sorotan tajam. Sejumlah ilmuwan dan kelompok lingkungan memperingatkan proyek tersebut berpotensi menimbulkan dampak yang belum sepenuhnya dipahami, mulai dari bertambahnya sampah antariksa hingga perubahan pada atmosfer Bumi.

Ide ini muncul seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI yang mengonsumsi listrik dalam jumlah sangat besar. Sejumlah perusahaan antariksa, termasuk SpaceX, mengusulkan pembangunan data center di orbit yang ditenagai panel surya agar tidak membebani jaringan listrik di Bumi.

Namun, lebih dari 100 ilmuwan, pakar antariksa, dan organisasi lingkungan telah meminta regulator Amerika Serikat melakukan kajian dampak lingkungan sebelum proyek tersebut diizinkan berjalan. Mereka menilai rencana mengirim jutaan satelit ke orbit tidak boleh dilakukan tanpa memahami risikonya secara menyeluruh.

“Kita tidak boleh mengulangi kesalahan dengan meluncurkan teknologi baru tanpa terlebih dahulu memahami dampaknya terhadap lingkungan,” demikian isi seruan para ilmuwan seperti dikutip dari NBC News, Senin (3/8/2026).

International Space Station (ISS) expedition 46/47 crew member, Russian cosmonaut Sergei Volkov performs a spacewalk outside the ISS in this Roscosmos image released on February 7, 2016.

Konsumsi Energi AI yang Mengkhawatirkan

Data center AI membutuhkan pasokan listrik yang sangat besar untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan. Di Bumi, kebutuhan energi tersebut memicu kekhawatiran terhadap emisi karbon, konsumsi air untuk pendinginan, dan tekanan pada jaringan listrik.

Di luar angkasa, panel surya dapat menghasilkan listrik hampir tanpa terputus karena satelit terus menerima sinar Matahari. Selain itu, pemrosesan data di orbit juga dinilai dapat mengurangi kebutuhan mengirim data mentah kembali ke Bumi.

Meski terdengar menjanjikan, para ilmuwan menilai teknologi ini masih menghadapi banyak tantangan. Salah satu masalah terbesar adalah pembuangan panas. Berbeda dengan di Bumi yang dapat menggunakan udara atau air sebagai media pendingin, di ruang hampa panas hanya bisa dilepaskan melalui radiasi, sehingga sistem pendinginnya jauh lebih rumit dan berat.

Selain itu, seperti dikutip dari ScienceDaily, perangkat elektronik juga harus tahan terhadap radiasi kosmik, puing antariksa, serta sulit diperbaiki jika mengalami kerusakan.

“Luar angkasa memang menawarkan energi Matahari yang melimpah, tetapi juga merupakan lingkungan yang sangat keras untuk mengoperasikan pusat data,” demikian penjelasan para peneliti.

Risiko Sampah Antariksa dan Tabrakan Satelit

Kritik lainnya adalah potensi meningkatnya jumlah satelit secara drastis. Beberapa proposal bahkan membayangkan konstelasi yang terdiri atas ratusan ribu hingga lebih dari satu juta satelit untuk menopang komputasi AI.

Menurut para peneliti, semakin banyak satelit diluncurkan, semakin besar pula risiko tabrakan di orbit yang dapat menghasilkan sampah antariksa baru. Puing-puing tersebut berpotensi mengganggu satelit lain yang digunakan untuk komunikasi, navigasi, hingga pemantauan cuaca.

Pendukung proyek berpendapat data center di orbit dapat mengurangi tekanan terhadap lingkungan di Bumi. Namun, sejumlah ilmuwan mengingatkan bahwa dampak peluncuran roket, pembuatan satelit, serta proses saat satelit memasuki kembali atmosfer juga harus diperhitungkan.

“Kita perlu memahami seluruh konsekuensi lingkungannya sebelum sistem sebesar ini dibangun,” kata para peneliti yang mengkritisi proyek tersebut.

Para ahli menegaskan bahwa konsep data center luar angkasa masih berada pada tahap awal. Sebelum diwujudkan dalam skala besar, mereka meminta dilakukan kajian ilmiah yang komprehensif agar solusi untuk kebutuhan AI tidak justru menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan Bumi maupun ruang antariksa.

Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dari teknologi besar sebenarnya bukan hal baru. Pemanasan global yang terus meningkat sejak 2015 telah menjadi pengingat bahwa setiap keputusan teknologi harus mempertimbangkan konsekuensi jangka panjangnya.

Di sisi lain, kebutuhan akan komputasi AI yang semakin masif juga menimbulkan pertanyaan tentang perlindungan data dan infrastruktur digital global. Seiring berkembangnya teknologi, regulasi dan kajian dampak menjadi semakin krusial untuk memastikan inovasi tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

Para ilmuwan berharap regulator dapat mengambil pelajaran dari perkembangan teknologi sebelumnya. Setiap keputusan yang diambil hari ini akan menentukan masa depan lingkungan Bumi dan ruang angkasa untuk generasi mendatang.

Kajian dampak lingkungan yang komprehensif menjadi prasyarat mutlak sebelum proyek data center luar angkasa diizinkan berjalan. Tanpa pemahaman yang menyeluruh, risiko yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar daripada manfaat yang dijanjikan.