JBNews.id — Antusiasme terhadap AI coding agent di Indonesia melonjak drastis. Codex Community Meetup pertama di Jakarta pada 13 Juni 2026 dibanjiri lebih dari 200 pendaftar, meski venue hanya mampu menampung 60 peserta. Lonjakan ini menandakan pergeseran nyata dari sekadar rasa penasaran menuju adopsi aktif teknologi AI generatif untuk produktivitas kerja.
Codex Ambassador pertama di Indonesia, Naufaldi Rafif, mengungkapkan bahwa tingginya angka pendaftaran menegaskan permintaan pasar yang autentik. “Lebih dari 200 peserta yang daftar dan akhirnya pendaftaran saya tutup. Namun, tidak semua bisa kami tampung karena keterbatasan venue, jadi yang hadir sekitar 60 orang. Buat saya ini cukup berkesan karena menunjukkan demand-nya nyata,” ujarnya dalam wawancara tertulis.
Menurut Naufaldi, Indonesia memiliki tingkat adopsi ChatGPT yang tinggi. Kini tren mulai bergeser ke agentic AI. Namun, masih banyak pengguna yang belum mengeksplorasi potensi Codex secara maksimal. “Sebagian kecil sudah menggunakan Codex, tapi masih sebatas untuk coding. Padahal Codex bisa digunakan jauh lebih luas, mulai dari workflow developer, dokumentasi, review kode, hingga membantu pekerjaan sehari-hari baik bagi developer maupun non-developer,” jelasnya. Fenomena ini sejalan dengan laporan bahwa Separuh Penggunanya Bukan Programmer.
Peserta Lintas Profesi
Peserta meetup ternyata sangat beragam. Selain developer, hadir pula desainer, product manager, founder startup, hingga berbagai profesi digital worker lainnya. Naufaldi sengaja mendesain meetup ini sebagai ruang belajar lintas profesi, karena Codex dinilai bisa meningkatkan produktivitas siapa saja, tidak hanya programmer.

Selama sesi hands-on, peserta menggali berbagai aplikasi Codex. Developer banyak mengeksplorasi automation SDLC, mulai dari penulisan kode, code review, debugging, hingga proses rilis aplikasi. Sementara peserta non-developer lebih tertarik menggunakan Codex untuk tugas-tugas kantor, seperti membuat slide presentasi, menyusun proposal, merapikan dokumen, dan brainstorming ide bisnis.
Baca Juga:
Salah satu cerita paling menarik datang dari seorang peserta yang berhasil membangun asisten pribadi berbasis AI sekaligus mini ERP untuk kebutuhan operasional perusahaannya. “AI coding agent bisa membantu founder atau tim kecil membuat internal tools lebih cepat, tanpa harus langsung membangun tim engineering besar sejak awal,” kata Naufaldi.
Tantangan Adopsi
Meski antusiasme tinggi, adopsi AI di Indonesia masih menemui hambatan. Banyak peserta yang bekerja di perusahaan atau startup mengeluhkan belum adanya anggaran dan kebijakan penggunaan AI. Akibatnya, tidak sedikit yang masih berlangganan menggunakan dana pribadi.

Selain itu, banyak pengguna baru yang masih memperlakukan Codex seperti chatbot biasa. Padahal, AI coding agent membutuhkan pemahaman workflow, pemilihan model, dan validasi hasil yang lebih matang. Naufaldi menegaskan bahwa AI bukan pengganti manusia. Ia mengingatkan agar developer dan knowledge worker melihat Codex sebagai asisten, bukan pengganti.
“AI coding agent ini adalah pembantu kita dalam bekerja, sedangkan kita adalah managernya,” tegasnya. Menurut Naufaldi, kemampuan memberi instruksi yang baik, memvalidasi hasil, dan berpikir kritis tetap menjadi skill paling penting di era AI saat ini. Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa Developer Masa Depan Tak Cukup Jago Ngoding.
Implikasinya bagi pekerja digital di Indonesia jelas: alat sudah tersedia, namun kesiapan organisasi dan literasi pengguna masih menjadi pekerjaan rumah. Perusahaan yang ingin tetap kompetitif perlu segera menyusun kebijakan penggunaan AI dan mengalokasikan anggaran yang memadai, bukan membiarkan karyawannya berlangganan secara mandiri. Tren ini juga menunjukkan bahwa AI Kini Banyak Dipakai Bikin Laporan hingga Presentasi, membuka peluang besar bagi knowledge worker di luar ranah teknis.




