JBNews.id — Bumi berpotensi dikelilingi cincin buatan mirip Saturnus akibat ledakan jumlah satelit di orbit. Para astronom memperingatkan fenomena ini akan mengubah langit malam secara permanen dan mengancam penelitian astronomi global.
Sejumlah perusahaan teknologi besar tengah berlomba mengirimkan ribuan satelit internet ke orbit. Di era kecerdasan buatan (AI), jumlah satelit diprediksi akan melonjak drastis karena banyak perusahaan berencana meluncurkan pusat data luar angkasa di orbit Bumi.
Hugh Lewis, profesor astronautika dari University of Birmingham, menjelaskan satu-satunya cara mengakomodasi jumlah pusat data orbit yang besar adalah dengan menumpuknya di orbit pada batas antara siang dan malam. Kondisi ini akan menciptakan ‘cincin Saturnus’ buatan yang terlihat jelas dari Bumi.
“Jika Anda melihat ke langit malam, satelit-satelit itu semua akan berada dalam satu bidang, sangat dekat satu sama lain, bergerak ke arah yang sama,” kata Lewis kepada Space.com, seperti dikutip dari detikINET, Selasa (21/7/2026).
Cincin buatan itu akan terlihat di langit seperti pita bercahaya yang jauh lebih terang dibandingkan bintang atau planet mana pun, bahkan bulan purnama. “Dampaknya pada langit malam akan benar-benar dahsyat,” imbuhnya.
Perusahaan seperti SpaceX, Blue Origin, Starcloud, dan masih banyak lagi sudah mengajukan permohonan kepada Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) untuk mendapatkan lisensi peluncuran lebih dari satu juta satelit pusat data. Angka ini menunjukkan skala masalah yang akan dihadapi dunia astronomi dalam waktu dekat.
Baca Juga:
Ancaman Cermin Raksasa Luar Angkasa
Selain proyek pusat data orbit, startup Reflect Orbital belum lama ini mendapatkan izin untuk menerbangkan satelit cermin raksasa. Tujuannya adalah memantulkan sinar Matahari ke Bumi agar tetap terang di malam hari. Mereka berencana meluncurkan 50.000 cermin raksasa ke luar angkasa.
Seberapa cerahnya ‘cincin Saturnus’ ini akan bergantung pada jumlah satelit yang ada di dalamnya. Namun, peneliti memperingatkan cermin luar angkasa milik Reflect Orbital sama terangnya seperti Venus, objek paling terang di langit setelah bulan purnama.
Studi yang dilakukan European Southern Observatory (ESO) menyimpulkan bahwa konstelasi 50.000 cermin Reflect Orbital akan meningkatkan kecerahan langit malam hingga 300%. Akibatnya, teleskop termahal di dunia menjadi tidak berguna untuk pengamatan astronomi.
“Proyek seperti Reflect Orbital akan mengubah cincin-cincin yang saat ini sebagian besar tak terlihat itu menjadi jejak reflektif yang terang,” kata pakar astronomi John Barentine.
“Kita tidak lagi hanya berbicara tentang hamparan titik-titik terang yang bergerak. Sebaliknya, ini adalah efek ‘cincin Saturnus’ buatan yang permanen, yang memotong tepat di jendela pengamatan senja yang paling penting untuk astronomi global,” sambungnya.
Dampak bagi Penelitian dan Industri
Fenomena ini tidak hanya mengancam astronomi amatir, tetapi juga penelitian ilmiah yang membutuhkan langit gelap. Teleskop-teleskop besar di berbagai belahan dunia bisa kehilangan kemampuannya untuk mengamati objek-objek langit yang redup dan jauh.
Para ilmuwan khawatir bahwa peningkatan kecerahan langit malam akan menghambat penemuan-penemuan baru di bidang astrofisika. Data observasi yang terkontaminasi oleh cahaya satelit juga akan menyulitkan analisis dan interpretasi hasil penelitian.
Situasi ini mengingatkan pada Polusi Dahsyat Pusat Data AI yang telah menjadi masalah di Bumi. Kini, polusi visual dan cahaya mengancam langit malam yang selama ini menjadi jendela manusia terhadap alam semesta.
Selain itu, Harga Terbaru teknologi yang semakin terjangkau justru mendorong lebih banyak peluncuran satelit. Hal ini menciptakan paradoks: semakin murah akses ke luar angkasa, semakin besar ancamannya bagi ilmu pengetahuan.
Di sisi lain, Bos Teknologi Habiskan Jutaan Dolar untuk berbagai proyek ambisius, termasuk proyek luar angkasa yang justru mengancam keberlanjutan observasi astronomi.
Implikasi bagi Masa Depan Astronomi
Tanpa regulasi yang ketat, langit malam yang gelap bisa menjadi kenangan masa lalu. Para astronom mendesak badan antariksa dan regulator internasional untuk segera mengambil tindakan sebelum terlambat.
Beberapa solusi yang diusulkan antara lain pembatasan jumlah satelit di orbit tertentu, penggunaan material yang kurang reflektif, dan pengaturan waktu operasi satelit agar tidak mengganggu jendela pengamatan astronomi.
Namun, dengan tekanan ekonomi dan persaingan bisnis luar angkasa yang semakin ketat, implementasi regulasi semacam itu masih menghadapi banyak tantangan. Kepentingan komersial dan ilmiah harus dipertemukan dalam keseimbangan yang sulit dicapai.
Bagi para astronom dan pengamat langit, masa depan pengamatan bintang dan galaksi kini berada di ujung tanduk. Langit malam yang selama miliaran tahun menjadi laboratorium alam semesta, kini terancam oleh ulah manusia sendiri.




