JBNews.id — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa fenomena benda bercahaya yang melintasi langit Pulau Jawa pada Sabtu (11/7) malam adalah meteor berukuran besar. Peristiwa ini memicu gelombang kejut yang terdengar sebagai dentuman di sejumlah wilayah.
Fenomena tersebut terekam oleh kamera warga di berbagai daerah dan langsung viral di media sosial. Banyak pengguna mengunggah video yang memperlihatkan objek terang melesat cepat di langit, disertai laporan suara dentuman beberapa saat setelahnya. Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, memberikan penjelasan ilmiah terkait peristiwa langka ini.
Menurut Thomas, meteor pertama kali terdeteksi melintas di atas Laut Jawa. Objek tersebut kemudian terlihat dari Bekasi sekitar pukul 21.22 WIB dalam bentuk titik cahaya putih berukuran kecil karena masih berada di ketinggian yang cukup tinggi. “Meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit Matahari. Ketika lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan atmosfer menyebabkan permukaannya memanas hingga berpijar sehingga tampak sebagai meteor,” ujar Thomas dalam keterangan resminya.
Ia menjelaskan, batuan antariksa mulai berpijar pada ketinggian sekitar 120 kilometer. Proses ablasi atau pengikisan permukaan batuan akibat gesekan dengan udara menghasilkan cahaya yang sangat terang. Berdasarkan analisis lintasan, meteor bergerak ke arah tenggara melintasi sebagian besar Pulau Jawa.
Warga di Cirebon dan Kuningan melaporkan mendengar suara dentuman keras. Thomas mengonfirmasi bahwa suara tersebut adalah sonic boom atau gelombang kejut. “Suara dentuman terjadi karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan rambat suara. Gelombang kejut itu baru terdengar beberapa saat setelah meteor melintas karena suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan,” jelasnya.
Fenomena warna-warni meteor juga teramati di berbagai daerah. Warga Majalengka melihat meteor berwarna biru. Objek yang sama kemudian terlihat di Nagreg sekitar pukul 21.23 WIB dan Tasikmalaya sebagai cahaya terang yang menerangi awan. Saat melintas di Yogyakarta, meteor bahkan memancarkan cahaya hijau terang. Thomas menjelaskan, variasi warna ini berasal dari kandungan unsur kimia dalam batuan antariksa. “Setiap unsur kimia memiliki spektrum cahaya yang berbeda ketika dipanaskan. Warna hijau pada meteor umumnya berkaitan dengan kandungan magnesium atau nikel yang terbakar selama proses masuk ke atmosfer,” katanya.
Dari analisis sementara, BRIN memperkirakan meteor terus bergerak ke tenggara hingga kehilangan kecepatan dan kemungkinan berakhir di Samudera Hindia, di selatan Jawa Timur atau Bali. Thomas menegaskan bahwa fenomena ini adalah peristiwa alam yang wajar dalam astronomi. Setiap hari, Bumi menerima jutaan batuan antariksa, namun sebagian besar berukuran kecil dan habis terbakar di atmosfer sebagai bintang jatuh. Meteor berukuran besar seperti yang melintas di Jawa pada Sabtu malam lebih jarang terjadi, sehingga bisa disaksikan secara luas.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya pada spekulasi yang beredar di media sosial. “Atmosfer Bumi merupakan pelindung alami yang sangat efektif sehingga sebagian besar meteoroid akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan. Fenomena ini merupakan peristiwa alam yang menarik sekaligus menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan lingkungan antariksa. Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir,” pungkas Thomas.
Peristiwa ini mengingatkan publik untuk selalu memverifikasi informasi yang viral. Sebelumnya, beredar pula klaim hoaks soal arti warna kontak WhatsApp yang sempat meresahkan. BRIN menekankan pentingnya merujuk pada sumber resmi untuk mendapatkan informasi yang akurat.
Fenomena astronomi seperti ini memang jarang terjadi, namun tetap menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan benda-benda antariksa. Dengan pemahaman yang benar, masyarakat dapat menikmati keindahan alam semesta tanpa perlu terjebak pada informasi yang menyesatkan.
Baca Juga:
Masyarakat diimbau untuk selalu kritis terhadap informasi yang beredar, terutama yang bersifat spekulatif. Untuk informasi lebih lanjut mengenai penjelasan ilmiah, publik dapat mengakses kanal resmi BRIN. Sementara itu, fenomena serupa juga pernah terjadi dan menjadi topik viral di platform digital, menunjukkan betapa cepatnya informasi menyebar di era digital ini.




