BRIN: El Niño 2026 Tak Ekstrem, Waspada Kemarau Panjang

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi kekeringan dampak El Nino dengan tanah retak dan pohon kering
  • BRIN memastikan Godzilla El Niño tidak mengancam Indonesia pada 2026
  • Peluang El Niño moderat sekitar 27 persen, bukan kategori ekstrem
  • Kemarau panjang diprediksi dengan peluang 81 persen
  • Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026
  • Wilayah Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Bandung berpotensi sangat kering
  • BRIN kembangkan teknologi mitigasi: Ina-Carbon, drone pemadam, dan irigasi hemat air
  • Risiko El Niño ekstrem meningkat pada akhir 2027 hingga pertengahan 2028
  • Masyarakat diimbau waspada namun tidak panik

JBNews.id — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan Indonesia tidak akan mengalami fenomena Godzilla El Niño pada tahun 2026. Meski ancaman El Niño ekstrem sangat kecil, pemerintah dan masyarakat tetap diminta waspada terhadap musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, dalam laporan perkembangan El Niño 2026, menjelaskan bahwa hasil analisis berbagai model iklim dunia menunjukkan kondisi iklim global saat ini lebih mengarah pada El Niño kategori moderat dengan peluang sekitar 27 persen. Kondisi ini berbeda dengan El Niño super kuat yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015.

“El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem. Namun, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis,” jelas Albertus, Senin (22/6/2026).

Albertus menjelaskan bahwa El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Fenomena ini mengganggu pola pembentukan awan hujan di Indonesia. Dalam kondisi normal, perairan Indonesia yang hangat menjadi pusat pembentukan awan dan hujan. Namun saat El Niño terjadi, pusat pembentukan awan bergeser ke arah Pasifik Tengah sehingga curah hujan di Indonesia berkurang secara signifikan.

Dari prediksi BRIN, puncak musim kemarau tahun 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung, berpotensi mengalami kondisi sangat kering.

“Secara keseluruhan, peluang terjadinya kemarau yang lebih panjang mencapai sekitar 81 persen,” jelasnya.

Albertus menegaskan bahwa peluang munculnya Godzilla El Niño tahun ini sangat kecil karena beberapa faktor ilmiah. Salah satunya adalah kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada pada fase posisi normal (neutral), diprediksi hingga April 2027.

Sumber: https://www.jamstec.go.jp/aplinfo/sintexf/e/seasonal/outlook.html

Selain itu, Indonesia dan kawasan Pasifik baru saja mengalami El Niño kuat pada periode 2023-2024. Secara fisik, lautan belum memiliki cukup energi untuk kembali membentuk El Niño super ekstrem dalam waktu yang berdekatan.

Meski demikian, BRIN menemukan adanya sinyal peningkatan risiko El Niño ekstrem pada periode akhir 2027 hingga pertengahan 2028. Melalui pendekatan analisis stokastik menggunakan Persamaan Fokker-Planck, peluang kemunculan Godzilla El Niño pada periode tersebut diperkirakan meningkat hingga mendekati 40 persen.

“Temuan ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah untuk mulai menyiapkan strategi mitigasi jangka menengah,” tegas Albertus.

Untuk menghadapi dampak kemarau panjang, BRIN telah mengembangkan berbagai teknologi mitigasi berbasis riset. Salah satunya adalah sistem pemantauan lahan gambut secara real time melalui platform Ina-Carbon. Platform ini mampu memonitor tinggi muka air tanah, kelembapan tanah, curah hujan, dan kualitas udara. Sistem ini dapat mendeteksi kondisi kritis lahan gambut satu hingga dua minggu sebelum kebakaran hutan dan lahan terjadi.

Selain itu, BRIN juga mengembangkan teknologi drone pemadam kebakaran yang dapat menjangkau lokasi-lokasi terpencil yang sulit diakses petugas lapangan. Teknologi tersebut dirancang untuk mendukung upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan yang umumnya meningkat saat musim kemarau panjang akibat El Niño.

Di sektor pangan, BRIN menyiapkan berbagai teknologi adaptasi untuk mengurangi risiko gagal panen. Teknologi tersebut mencakup sistem irigasi hemat air, pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, hingga pemanfaatan lahan suboptimal seperti rawa lebak. Lahan ini dapat menjadi alternatif produksi pangan saat lahan pertanian konvensional mengalami kekurangan air.

Albertus menekankan bahwa keberhasilan menghadapi El Niño tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar anomali iklim yang terjadi. Kesiapan teknologi dan strategi adaptasi yang diterapkan sejak dini menjadi faktor penentu. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada namun tidak perlu khawatir berlebihan terhadap isu El Niño ekstrem pada tahun 2026.

“Yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat pengelolaan sumber daya air, mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan, serta memastikan ketahanan pangan tetap terjaga. Dengan mitigasi dan adaptasi yang tepat, dampak El Niño dapat ditekan seminimal mungkin,” pungkas Albertus.

Pemerintah daerah di Jawa Barat, khususnya yang wilayahnya diprediksi mengalami kondisi sangat kering, perlu segera menyusun rencana kontingensi. Langkah antisipasi seperti penyediaan Pembatasan Medsos Anak bukan menjadi prioritas, melainkan pengelolaan air bersih dan kesiapsiagaan kebakaran hutan.

Bagi masyarakat di wilayah terdampak, memahami karakteristik El Niño 2026 menjadi kunci untuk tidak panik. Informasi akurat dari lembaga riset seperti BRIN membantu publik membedakan antara ancaman nyata dan spekulasi yang tidak berdasar. PP TUNAS Lindungi Anak di ruang digital juga relevan untuk memastikan informasi tentang mitigasi bencana tersebar dengan benar.

Dengan probabilitas kemarau panjang mencapai 81 persen, sektor pertanian menjadi yang paling rentan. Petani di Jawa Barat perlu mulai mengadopsi Warga Perbatasan Marak Pakai Starlink sebagai alternatif konektivitas, namun fokus utama tetaplah pada penerapan sistem irigasi hemat air yang dikembangkan BRIN.

Secara keseluruhan, data BRIN memberikan gambaran yang jelas: tidak ada Godzilla El Niño pada 2026, tetapi kemarau panjang adalah kepastian. Kesiapsiagaan dan adaptasi teknologi menjadi kunci untuk meminimalkan dampak negatif dari fenomena iklim tahun ini.