Bos Xbox Siapkan PHK Besar dan Reset Perusahaan

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
CEO Xbox Asha Sharma memimpin restrukturisasi besar dengan PHK ribuan karyawan
  • CEO Xbox Asha Sharma bersiap melakukan PHK besar-besaran sebagai bagian dari strategi reset perusahaan
  • Pengurangan karyawan pertama dijadwalkan Juli 2026 setelah tahun fiskal berakhir
  • Rumor menyebutkan 1.000 karyawan akan terkena PHK
  • Pendapatan tahunan Xbox turun hampir setengah miliar dolar
  • Margin akuntabilitas hanya 3% pada fiskal ini
  • Xbox telah menghabiskan USD 20 miliar untuk investasi dalam 5 tahun terakhir
  • Penjualan hardware anjlok dan Game Pass stagnan
  • Perusahaan akan fokus pada game eksklusif dan penurunan harga Game Pass
  • Langkah ini diambil di bawah tekanan Microsoft untuk meningkatkan margin keuntungan

JBNews.id — CEO Xbox, Asha Sharma, berencana melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan memangkas anggaran dan bersiap memberhentikan sejumlah besar karyawan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi “reset” perusahaan di tengah tekanan keuangan yang semakin berat.

Dilansir Bloomberg, Senin (15/6/2026), pengurangan karyawan pertama dijadwalkan terjadi pada Juli mendatang, segera setelah berakhirnya tahun fiskal perusahaan. Anggaran yang dipotong mencakup dana pemasaran dan beberapa area bisnis lainnya. Meskipun jumlah pasti karyawan yang terdampak belum diumumkan, beredar rumor bahwa 1.000 karyawan akan terkena PHK. Xbox menolak memberikan komentar terkait hal tersebut.

Langkah ini diambil setelah Sharma secara terbuka mengakui tantangan keuangan yang dihadapi Xbox. Dalam sebuah email kepada karyawan yang kemudian dipublikasikan di blog Xbox berjudul “Next 100 Days: XBOX Reset”, terungkap bahwa kinerja perusahaan sedang tidak baik-baik saja.

Data internal menunjukkan Xbox mengalami margin akuntabilitas sebesar 3% pada fiskal ini, dan pendapatan tahunan telah menurun hampir setengah miliar dolar. “Tidak termasuk Activision Blizzard King, selama lima tahun terakhir, kami telah menghabiskan lebih dari USD 20 miliar untuk investasi berkelanjutan dalam konten, platform, dan subsidi perangkat keras kami, tetapi pendapatan tahunan kami telah menurun hampir setengah miliar selama periode tersebut. Ke depannya, ini tidak dapat berlanjut,” tulis Sharma dalam pernyataannya.

Krisis yang melanda Xbox tidak terjadi secara tiba-tiba. Penjualan bisnis hardware anjlok, perusahaan gagal menghadirkan sejumlah game sukses, dan layanan Game Pass mengalami stagnasi. Di bawah tekanan dari perusahaan induknya, Microsoft, untuk meningkatkan margin keuntungan, Xbox telah menghabiskan dua tahun terakhir untuk menutup studio, membatalkan pengembangan game, dan menaikkan harga.

Sharma menegaskan Xbox perlu membangun kembali infrastruktur platformnya dan memikirkan ulang portofolio dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Perusahaan telah melakukan ekspansi untuk meningkatkan pasokan kontennya, termasuk merilis sejumlah game eksklusif seperti Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution, serta menurunkan harga layanan berlangganan Game Pass.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Xbox sedang berada dalam fase transformasi yang kritis. Sebelumnya, Harga Xbox Game Pass yang naik drastis telah menyebabkan kehilangan jutaan pelanggan, memperparah kondisi keuangan perusahaan.

Keputusan untuk melakukan PHK besar-besaran ini menjadi ujian bagi kepemimpinan Asha Sharma dalam membawa Xbox keluar dari krisis. Para pengamat industri akan mencermati apakah strategi reset ini mampu mengembalikan profitabilitas perusahaan di tengah persaingan ketat dengan Sony dan Nintendo.

Implikasinya bagi para pemain dan pelanggan Xbox adalah potensi perubahan besar dalam strategi konten dan layanan ke depannya. PHK besar-besaran ini diprediksi akan berdampak pada jadwal rilis game dan pengembangan hardware di masa mendatang.

Raksasa teknologi Amerika Serikat (AS), Microsoft akan memangkas 650 karyawan di divisi game Xbox. Langkah ini merupakan PHK ketiga di unit video games Microsoft.

Krisis yang dialami Xbox juga memicu spekulasi tentang kemungkinan perubahan strategi konsol. Beberapa analis memperkirakan Microsoft akan semakin fokus pada layanan cloud gaming dan konten lintas platform, mengurangi ketergantungan pada penjualan hardware tradisional.

Dengan pendapatan tahunan yang terus menurun dan biaya investasi yang membengkak, Xbox menghadapi tekanan untuk segera menunjukkan hasil nyata dari program reset ini. Langkah-langkah penghematan dan restrukturisasi yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu arah bisnis Xbox dalam jangka panjang.

Bagi para penggemar Xbox, situasi ini menimbulkan ketidakpastian tentang masa depan platform yang mereka gunakan. Namun, komitmen Sharma untuk membangun kembali infrastruktur platform dan memikirkan ulang portofolio memberikan secercah harapan akan inovasi baru yang mungkin lahir dari proses transformasi ini.

Ke depannya, Xbox harus mampu menyeimbangkan antara kebutuhan untuk memangkas biaya dengan investasi yang diperlukan untuk tetap kompetitif. Kesalahan dalam mengeksekusi strategi reset ini bisa berakibat fatal bagi posisi Xbox di industri game global.