Bos Teknologi Habiskan Jutaan Dolar, Kena Autoimun Berat

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Bryan Johnson saat menjalani program biohacking untuk awet muda
  • Bryan Johnson, bos teknologi berusia 48 tahun, didiagnosis gastritis autoimun (AIG) yang tidak dapat disembuhkan.
  • Johnson telah menghabiskan jutaan dolar untuk program biohacking, termasuk menyuntikkan darah putranya.
  • Diagnosis ini mengejutkan karena tim medisnya yang besar tidak mendeteksi penyakit tersebut lebih awal.
  • Johnson menyalahkan kebiasaan tidak sehat di masa mudanya, seperti konsumsi gula berlebih dan stres tinggi.
  • Ia pernah didiagnosis hipotiroidisme di usia 21 tahun dan mengalami kekurangan zat besi kronis.
  • Johnson tetap optimis dapat mengatasi penyakitnya dengan pendekatan biohacking yang sama.
  • Kasus ini memunculkan pertanyaan tentang efektivitas biohacking ekstrem dalam menjaga kesehatan.

JBNews.id — Bryan Johnson, pengusaha teknologi berusia 48 tahun yang dikenal karena obsesinya terhadap umur panjang dan telah menghabiskan jutaan dolar untuk program biohacking, justru menerima kabar buruk: ia didiagnosis mengidap penyakit autoimun yang tidak dapat disembuhkan.

Pekan lalu, CEO Braintree tersebut mengungkapkan bahwa dirinya telah didiagnosis dengan gastritis autoimun (AIG), sebuah kondisi di mana antibodi sistem kekebalan tubuh menjadi liar dan mulai menyerang sel-sel lambung. Penyakit ini sering kali muncul tanpa gejala nyata dan dapat memicu kanker.

“Saya akan mencoba dan mengatasinya. Akan saya bagikan semua prosesnya,” tulis Johnson di akun media sosial X, menanggapi diagnosis yang mengejutkan banyak pihak mengingat investasi besarnya dalam bidang kesehatan.

Johnson mengklaim telah menghabiskan jutaan dolar untuk kesehatannya dengan mempekerjakan sepasukan dokter pribadi yang terus memantau serta membantunya melakukan intervensi kesehatan yang tidak lazim. Program tersebut termasuk menyuntikkan darah putranya dan memantau ereksi secara rutin. Karena itu, cukup mengejutkan bahwa kondisi autoimun ini lama tak terdeteksi oleh tim medisnya.

Diagnosis ini memunculkan pertanyaan serius tentang kemanjuran biohatching Johnson. Banyak yang berspekulasi apakah gaya hidupnya yang rumit dan berfokus pada umur panjang justru turut berperan dalam memicu penyakit tersebut. Pertanyaan ini semakin relevan mengingat besarnya sumber daya yang ia alokasikan untuk menjaga kesehatan.

Menanggapi keraguan tersebut, Johnson membela diri. “Ini adalah diagnosis dari kondisi yang mulai muncul di dalam tubuh saya lebih dari 20 tahun yang lalu. Jika saya tidak merawat tubuh dengan baik selama beberapa tahun terakhir, kondisinya pasti akan jauh lebih buruk. Masalah kesehatan akan selalu muncul, sesehat apa pun seseorang,” tulisnya.

Riwayat Kesehatan dan Kebiasaan Masa Lalu

Johnson menyalahkan kebiasaan tidak sehat di masa mudanya sebagai akar masalah. Ia mengaku sering mengonsumsi terlalu banyak gula serta mengalami tingkat stres tinggi di usia 20-an yang menyebabkan berat badannya naik secara signifikan. Faktor-faktor ini menurutnya berkontribusi terhadap kondisi kesehatannya saat ini.

Selain itu, Johnson juga pernah didiagnosis mengidap hipotiroidisme saat berusia 21 tahun. Hipotiroidisme adalah kondisi di mana kelenjar tiroid tidak melepaskan cukup hormon ke aliran darah, yang dapat mempengaruhi metabolisme dan berbagai fungsi tubuh lainnya.

Tanda bahaya mulai muncul ketika tim medisnya menyadari bahwa Johnson mengalami kekurangan zat besi kronis, meskipun secara kasat mata ia tidak terlihat menderita anemia. Temuan ini kemudian mendorong dilakukannya tes lebih lanjut yang akhirnya mengonfirmasi diagnosis gastritis autoimun stadium awal.

Kisah Johnson menjadi pengingat bahwa teknologi dan investasi finansial yang besar sekalipun tidak selalu bisa mengalahkan faktor genetik dan riwayat kesehatan masa lalu. Hal ini juga menunjukkan keterbatasan biohacking dalam mendeteksi penyakit autoimun yang sering kali bersifat diam-diam.

Fenomena ini juga menarik untuk dibandingkan dengan tren lain di industri teknologi, di mana banyak perusahaan mengeluarkan biaya besar untuk hal-hal yang belum tentu efektif. Misalnya, sebuah laporan menunjukkan bahwa biaya AI membengkak secara signifikan tanpa hasil yang sepadan.

Implikasi bagi Industri Kesehatan dan Teknologi

Kasus Bryan Johnson membuka diskusi lebih luas tentang efektivitas pendekatan biohacking yang ekstrem. Meskipun ia berinvestasi besar dalam pemantauan kesehatan, penyakit autoimun yang dideritanya justru luput dari deteksi hingga mencapai stadium awal. Ini menunjukkan bahwa tidak semua kondisi kesehatan dapat dideteksi dini dengan teknologi yang ada saat ini.

Johnson sendiri tetap optimis dapat mengatasi kondisi ini dengan pendekatan yang sama: biohacking. Ia berjanji akan membagikan seluruh proses pengobatannya kepada publik, menjadikannya studi kasus yang menarik tentang bagaimana teknologi dan data dapat digunakan untuk melawan penyakit autoimun.

Dalam pernyataannya, Johnson menekankan bahwa masalah kesehatan adalah hal yang wajar dan akan selalu muncul pada setiap orang, tidak peduli seberapa sehat gaya hidup mereka. “Masalah kesehatan akan selalu muncul, sesehat apa pun seseorang,” tegasnya.

Dampak dari kasus ini tidak hanya terbatas pada industri kesehatan pribadi, tetapi juga menyentuh sektor teknologi yang lebih luas. Banyak pengamat mulai mempertanyakan apakah pendekatan berbasis data dan teknologi saja sudah cukup untuk menjaga kesehatan secara holistik.

Seperti halnya investasi besar di bidang AI yang terkadang tidak membuahkan hasil optimal, pusat data AI menghabiskan air dalam jumlah besar untuk operasionalnya, menunjukkan bahwa sumber daya yang besar tidak selalu menjamin efisiensi atau hasil yang diinginkan.

Kasus ini juga mengingatkan pada fenomena lain di dunia teknologi, di mana komunikasi antar individu sering kali tidak berjalan efektif. Sebagai contoh, ada laporan tentang bos kirim chat AI ke karyawan yang kemudian dibalas dengan AI juga, menunjukkan betapa teknologi kadang justru menjauhkan manusia dari interaksi yang autentik.

Bagi para pelaku industri teknologi dan kesehatan, kisah Bryan Johnson menjadi pelajaran berharga. Investasi finansial yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan hasil kesehatan yang optimal. Faktor genetik, riwayat kesehatan masa lalu, dan gaya hidup secara keseluruhan tetap memainkan peran yang tidak bisa diabaikan.

Johnson berencana untuk terus menjalani program biohacking-nya sambil menjalani pengobatan untuk gastritis autoimun. Ia berkomitmen untuk berbagi data dan pengalamannya secara terbuka, yang mungkin akan menjadi kontribusi berharga bagi penelitian tentang penyakit autoimun dan pendekatan pengobatan berbasis teknologi.

Dengan segala keterbatasannya, biohacking tetap menawarkan harapan baru dalam dunia kesehatan. Namun, kasus Bryan Johnson menunjukkan bahwa teknologi bukanlah solusi ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah kesehatan. Pendekatan yang lebih seimbang antara teknologi, gaya hidup, dan perawatan medis konvensional mungkin masih menjadi pilihan terbaik.

Bagi publik, kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak ada jaminan kesehatan yang absolut, bahkan dengan sumber daya tak terbatas sekalipun. Yang terpenting adalah kesadaran untuk terus memantau kondisi tubuh dan menjalani gaya hidup sehat secara konsisten, tanpa harus mengikuti tren ekstrem yang belum tentu terbukti efektif secara ilmiah.