Blomkamp dan AI Film: Tanda Kemunduran Karier Sutradara

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Cuplikan film AI Nightborne karya Neill Blomkamp yang menampilkan tentara zombie.
  • Sutradara Neill Blomkamp merilis film AI "NIGHTBORNE" yang menuai kritik tajam
  • Film ini dianggap sebagai tanda kemunduran karier Blomkamp sejak sukses "District 9" tahun 2009
  • Blomkamp mengumumkan Barley Studios, studio film AI baru, dan berjanji memproduksi lebih banyak konten serupa
  • Kritik datang dari berbagai media seperti The Verge dan Aftermath, serta pengguna Reddit
  • Fenomena ini menunjukkan bahwa adopsi AI oleh sineas justru dianggap sebagai kemunduran, bukan inovasi
  • Beberapa sutradara lain seperti Darren Aronofsky dan Paul Schrader juga mengalami nasib serupa

JBNews.id — Sutradara Neill Blomkamp, yang namanya melambung lewat film fiksi ilmiah “District 9” pada 2009, kini menuai kritik tajam setelah merilis “NIGHTBORNE,” sebuah film pendek yang ia klaim sebagai “first full test AI film” buatannya. Alih-alih mendapat sambutan, langkah Blomkamp justru dianggap sebagai bukti nyata kemunduran kariernya di industri perfilman.

Film “District 9” yang menggunakan gaya quasi-dokumenter itu sukses besar. Film tersebut dinominasikan untuk empat Piala Oscar dan meraup keuntungan finansial yang signifikan. Namun, sejak saat itu, karier Blomkamp dinilai terus menurun. Meskipun film-filmnya masih menghasilkan uang, penerimaan kritikus dan penonton semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Blomkamp juga dikenal memiliki banyak proyek film yang tidak pernah terealisasi, bahkan hingga memiliki halaman Wikipedia khusus yang mendokumentasikan proyek-proyek gagalnya. Selain itu, ia sempat mendirikan studio pengembangan game berbasis blockchain dan mendapat kecaman karena diduga tidak membayar karyawan selama berbulan-bulan.

Kini, di tengah tekanan untuk membangun kembali namanya tanpa sumber daya yang ia miliki dulu, Blomkamp beralih ke kecerdasan buatan (AI). Pada Senin lalu, ia mengumumkan “NIGHTBORNE” yang dibuat menggunakan model AI asal China, Seedance 2.0. Ia juga meluncurkan Barley Studios, studio film AI barunya, dan berjanji akan memproduksi lebih banyak tontonan serupa.

“Saya telah bereksperimen dengan AI selama beberapa tahun, dan sekarang sudah sampai pada titik di mana saya ingin menggarap film panjang dalam format ini,” ujar Blomkamp. Ia mengklaim film tersebut dibuat bersama konseptor seni asli dan menampilkan wajah serta suara dari 32 orang sungguhan.

Namun, alih-alih membangkitkan antusiasme, film AI ini justru dihujani kritik pedas. Sebuah headline dari Aftermath menulis, “Jika Film AI Sampahnya Akhirnya Membuatmu Sadar Neill Blomkamp Itu Penipu, Maka Terimalah.” The Verge menyebutnya sebagai “slop warmed over” atau tayangan sampah yang dihangatkan. Para pengguna Reddit pun melabelinya sebagai “one hit wonder” yang telah beralih ke “mode AI slop” sepenuhnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penonton tidak lagi melihat sutradara yang mengadopsi AI sebagai pionir yang berada di garis depan teknologi. Sebaliknya, AI justru dianggap sebagai kemunduran karena pilihan artistik mereka dikendalikan oleh mesin yang hanya merata-ratakan karya seni yang lebih baik dari sebelumnya.

Beralih ke AI tampaknya semakin menjadi “tanda kematian” bagi karier seorang sineas. Darren Aronofsky, misalnya, pernah membuat seri video animasi AI tentang Perang Revolusi Amerika yang mendapat cemoohan universal. Paul Schrader juga berulang kali memuji AI dan mengisyaratkan akan membuat film AI, namun kariernya tengah terpuruk setelah tuduhan pelecehan seksual.

Blomkamp, yang dikenal karena visual gritty dan efek spesial inovatifnya, tampaknya tidak mampu menghadirkan sesuatu yang baru dalam film AI-nya. Citraan AI yang ia hasilkan terlihat generik dan tidak natural, bahkan mungkin lebih buruk dari kebanyakan karya AI lainnya. Gaya editing cepat dalam film tersebut seolah berusaha menutupi fakta bahwa model AI tidak dapat menghasilkan klip yang lebih panjang dari beberapa detik.

Kritik terhadap langkah Blomkamp ini juga menyoroti bagaimana brand teknologi China terus mendorong adopsi AI di berbagai sektor, termasuk industri kreatif. Namun, adopsi yang tidak bijak justru dapat merusak reputasi para kreator.

Fenomena Blomkamp bukanlah kasus isolasi. Banyak sineas yang merasa terdesak untuk mengikuti tren AI demi tetap relevan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kualitas karya dan persepsi audiens. Di tengah maraknya deepfake AI, pemerintah di berbagai negara mulai mencari solusi untuk mengatur penggunaan teknologi ini.

Bagi Blomkamp, “NIGHTBORNE” bukanlah tiket untuk kembali ke puncak karier, melainkan batu nisan yang menandai akhir dari perjalanannya sebagai sutradara yang dihormati. Industri perfilman dan penonton kini menanti apakah ia akan mampu bangkit kembali, atau justru tenggelam dalam pusaran kontroversi AI yang ia ciptakan sendiri.

Implikasinya jelas: bagi para sineas yang ingin tetap relevan, mengadopsi AI tanpa visi artistik yang kuat bukanlah solusi. Justru, hal itu dapat menjadi bumerang yang menghancurkan reputasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.