Astronaut Melihat Matahari Terbit 16 Kali Sehari, Ini Alasannya

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Astronot NASA Josh Cassada beristirahat di dalam ruang kru di atas Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 2 Maret 2023
  • Astronaut di ISS menyaksikan Matahari terbit dan terbenam 16 kali dalam 24 jam
  • ISS mengorbit Bumi setiap 92 menit dengan kecepatan 28.000 km/jam
  • ISS berada di ketinggian 400 km dengan kecepatan 7,66 km/detik
  • NASA menggunakan UTC untuk jadwal kerja astronaut, bukan kondisi cahaya
  • Lampu LED di ISS meniru cahaya alami Bumi untuk menjaga ritme sirkadian
  • Cahaya kebiruan di pagi hari menekan melatonin, cahaya hangat menjelang tidur
  • Gangguan ritme sirkadian berisiko pada tidur, konsentrasi, dan kinerja astronaut
  • Teknologi ini penting untuk misi jangka panjang ke Bulan dan Mars

JBNews.id — Astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menyaksikan Matahari terbit dan terbenam sebanyak 16 kali dalam 24 jam. Fenomena ini terjadi karena ISS mengorbit Bumi setiap sekitar 92 menit dengan kecepatan hampir 28.000 kilometer per jam.

Kecepatan orbit yang luar biasa ini membuat pergantian siang dan malam yang di Bumi berlangsung 24 jam hanya terjadi dalam waktu sekitar satu setengah jam di orbit. Setiap kali ISS berpindah dari sisi Bumi yang gelap ke sisi yang diterangi Matahari, astronaut melihat Matahari terbit. Sebaliknya, ketika ISS kembali memasuki bayangan Bumi, mereka menyaksikan Matahari terbenam.

ISS berada di orbit rendah Bumi pada ketinggian sekitar 400 kilometer. Dengan kecepatan sekitar 7,66 kilometer per detik, stasiun ini mampu mengelilingi Bumi sekitar 15,5 hingga 16 kali setiap hari. Data ini menunjukkan betapa cepatnya pergerakan stasiun luar angkasa tersebut dibandingkan dengan rotasi Bumi.

Meskipun menyaksikan 16 kali Matahari terbit setiap hari, astronaut tidak menjalani pola tidur berdasarkan fenomena tersebut. Tanpa pengaturan khusus, paparan cahaya yang terus berubah dapat mengacaukan jam biologis, mengganggu tidur, hingga menurunkan konsentrasi astronaut.

Astronot NASA Josh Cassada beristirahat di dalam ruang kru di atas Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 2 Maret 2023.

NASA dan badan antariksa lainnya menerapkan jadwal kerja yang mengikuti Waktu Universal Terkoordinasi (UTC), bukan berdasarkan kondisi cahaya di luar jendela. Pendekatan ini memastikan astronaut tetap memiliki rutinitas yang konsisten meskipun berada di lingkungan dengan siklus cahaya yang sangat berbeda dari Bumi.

Lampu LED di dalam ISS juga diatur agar meniru perubahan cahaya alami di Bumi. Pada pagi hari, lampu memancarkan cahaya kebiruan yang membantu menekan hormon melatonin sehingga astronaut tetap waspada. Menjelang waktu tidur, pencahayaan berubah menjadi lebih hangat untuk membantu tubuh bersiap beristirahat.

Sistem pencahayaan tersebut dikembangkan berdasarkan penelitian tentang ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur siklus tidur, hormon, suhu tubuh, hingga metabolisme. Jika ritme sirkadian terganggu dalam waktu lama, astronaut berisiko mengalami gangguan tidur, penurunan kemampuan berpikir, perubahan suasana hati, hingga menurunnya kinerja saat menjalankan misi.

Karena itu, pencahayaan menjadi bagian penting dalam desain ISS, sama pentingnya dengan sistem pendukung kehidupan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan misi luar angkasa tidak hanya bergantung pada teknologi propulsi atau sistem navigasi, tetapi juga pada bagaimana menjaga kesehatan fisik dan mental awak.

Teknologi pencahayaan dan pengaturan ritme biologis ini diperkirakan akan menjadi semakin penting ketika manusia menjalani misi jangka panjang ke Bulan maupun Mars. Dalam perjalanan yang dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, astronaut tidak lagi memiliki siklus siang dan malam alami seperti di Bumi.

Para ilmuwan terus mengembangkan sistem pencahayaan cerdas yang mampu menjaga kesehatan fisik dan mental awak selama berada jauh dari planet asal mereka. Pengembangan ini menjadi prioritas utama badan antariksa dunia mengingat kompleksitas misi luar angkasa jangka panjang yang semakin meningkat.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tantangan hidup di luar angkasa bukan hanya soal gravitasi atau radiasi, tetapi juga bagaimana menjaga jam biologis manusia tetap selaras meski setiap hari menyaksikan Matahari terbit sebanyak 16 kali. Temuan ini sejalan dengan berbagai inovasi lain yang terus dikembangkan untuk mendukung kehidupan astronaut di orbit, termasuk sistem daur ulang air yang mengubah urine menjadi air minum di ISS.

Keberhasilan misi luar angkasa jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan yang ekstrem. Pengaturan ritme sirkadian menjadi salah satu kunci utama yang harus dikuasai sebelum manusia melangkah lebih jauh ke luar angkasa.

Dengan terus berkembangnya teknologi pendukung kehidupan di luar angkasa, termasuk sistem pencahayaan cerdas, para ilmuwan optimistis manusia akan mampu menjalani misi panjang ke Bulan dan Mars. Namun, masih banyak penelitian lanjutan yang diperlukan untuk memastikan kesehatan astronaut tetap terjaga selama bertahun-tahun di luar angkasa.

Fenomena 16 kali Matahari terbit ini menjadi pengingat bahwa kehidupan di luar angkasa membutuhkan adaptasi yang menyeluruh, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara biologis. Kemampuan manusia untuk mengatasi tantangan ini akan menentukan masa depan eksplorasi luar angkasa.

Berbagai lembaga antariksa di dunia terus berkolaborasi untuk mengatasi tantangan ini. Penelitian tentang ritme sirkadian di luar angkasa menjadi salah satu prioritas utama dalam pengembangan teknologi pendukung misi jangka panjang.

Dengan semakin dekatnya rencana misi berawak ke Bulan dan Mars, pemahaman tentang bagaimana menjaga jam biologis astronaut menjadi semakin krusial. Sistem pencahayaan cerdas yang dikembangkan untuk ISS akan menjadi fondasi bagi teknologi serupa yang digunakan dalam misi-misi berikutnya.

Para ahli memperkirakan bahwa dalam beberapa dekade mendatang, manusia akan semakin sering melakukan perjalanan luar angkasa jangka panjang. Oleh karena itu, investasi dalam penelitian ritme sirkadian dan teknologi pendukungnya menjadi sangat penting bagi masa depan eksplorasi luar angkasa.

Keberhasilan menjaga kesehatan astronaut selama misi jangka panjang akan membuka jalan bagi pencapaian-pencapaian baru dalam eksplorasi luar angkasa, termasuk kemungkinan pendirian koloni manusia di planet lain.