Anthropic Kena Sanksi Usai Riset Keamanan Amazon

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi logo Anthropic dengan latar belakang data digital dan simbol keamanan siber
  • Pemerintah AS blokir akses model AI Fable 5 dan Mythos 5 milik Anthropic
  • Riset keamanan siber Amazon jadi pemicu utama kebijakan ini
  • CEO Amazon Andy Jassy bagikan temuan ke Gedung Putih
  • Banyak peneliti Anthropic kelahiran asing dilarang akses produk sendiri
  • Anthropic bantah klaim jailbreak, sebut kerentanan juga ada di model lain
  • Ketegangan Anthropic dengan pemerintahan Trump sudah berlangsung lama
  • Implikasi: industri AI global terancam perlambatan inovasi

JBNews.id — Pemerintah Amerika Serikat memblokir akses model kecerdasan buatan (AI) milik Anthropic, yakni Fable 5 dan Mythos 5, setelah riset keamanan siber dari Amazon memicu kekhawatiran di Gedung Putih. Langkah ini memicu kontroversi karena banyak peneliti Anthropic yang justru dilarang mengakses produk mereka sendiri.

Menurut laporan Wall Street Journal, kebijakan kontrol ekspor yang menyebabkan Anthropic memutus akses terhadap Fable 5 dan Mythos 5 dipicu oleh riset keamanan siber dari Amazon dan percakapan antara CEO Andy Jassy dengan Gedung Putih. Amazon mengklaim bahwa melalui serangkaian prompt, pihaknya berhasil membuat Fable 5 memberikan informasi yang dapat digunakan dalam serangan siber. Amazon belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Tak lama setelah Jassy membagikan temuan perusahaannya kepada pemerintah, pemerintah langsung mengambil keputusan untuk memblokir penggunaan model AI tersebut oleh warga negara asing. Hal ini mempersulit situasi karena banyak peneliti Anthropic yang merupakan kelahiran asing, sehingga mereka dilarang mengakses produk buatan mereka sendiri.

Dalam pernyataannya, Anthropic membantah karakterisasi pemerintah yang menyebut isu ini sebagai “jailbreak.” Perusahaan berargumen bahwa banyak kerentanan serupa dapat ditemukan menggunakan model lain yang tersedia untuk publik, termasuk GPT 5.5. Beberapa peneliti keamanan tampaknya mendukung interpretasi perusahaan tersebut. Katie Moussouris, pendiri dan CEO LutaSecurity, memposting di BlueSky bahwa “Saya sudah melihat papernya. Itu bukan jailbreak.”

Mantan pejabat Departemen Perdagangan, Kate Koren, berspekulasi kepada WSJ bahwa ketidaksukaan Gedung Putih terhadap Anthropic mungkin memengaruhi keputusan tersebut. Anthropic dan pemerintahan Trump memang sudah berselisih sejak lama terkait penolakan perusahaan untuk mengizinkan AI-nya digunakan untuk pengawasan massal terhadap warga Amerika atau untuk menggerakkan senjata otonom yang mematikan.

Pada bulan Februari, Trump menginstruksikan badan-badan federal untuk berhenti menggunakan AI milik Anthropic. Beberapa jam kemudian, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menetapkan perusahaan tersebut sebagai risiko rantai pasokan. Pemerintah dan perusahaan sempat berdamai dan bekerja sama untuk memperluas akses terhadap Mythos. Namun, kini keduanya tampaknya akan kembali bentrok.

Kebijakan ini menimbulkan implikasi besar bagi industri AI global. Pembatasan akses terhadap model-model canggih seperti Fable 5 dan Mythos 5 berpotensi memperlambat inovasi dan meningkatkan ketegangan antara perusahaan teknologi dengan pemerintah. Bagi para peneliti dan pengembang AI, situasi ini menegaskan pentingnya diversifikasi sumber daya dan kepatuhan terhadap regulasi yang terus berubah.

Amazon sendiri tengah menghadapi sorotan terkait kebijakan data center mereka. Perusahaan sebelumnya telah mengungkap konsumsi air di pusat data mereka di tengah moratorium Seattle. Langkah ini menunjukkan bahwa isu keamanan dan keberlanjutan kini menjadi perhatian utama bagi raksasa teknologi global.

Keputusan pemerintah AS ini juga berpotensi memicu perdebatan lebih luas tentang batasan antara keamanan nasional dan kebebasan penelitian. Dengan banyaknya talenta asing yang bekerja di perusahaan AI, kebijakan semacam ini dapat menghambat aliran pengetahuan dan memperlambat kemajuan teknologi.

Hingga berita ini diturunkan, Anthropic belum mengumumkan langkah selanjutnya. Namun, ketegangan yang meningkat antara perusahaan dengan pemerintah AS menunjukkan bahwa konflik ini masih jauh dari selesai. Para pengamat industri akan terus memantau perkembangan kebijakan yang dapat mengubah lanskap persaingan AI global.