Amazon Ajukan Izin Satelit Direct-to-Device, Saingi Starlink

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi konstelasi satelit Amazon Leo direct-to-device di orbit Bumi
  • Amazon ajukan permohonan FCC untuk konstelasi 5.105 satelit direct-to-device
  • Layanan mencakup suara, pesan, data, dan layanan darurat mulai 2028
  • Amazon akan bermitra dengan operator seluler, mirip model Starlink-T-Mobile
  • Akuisisi Globalstar dan kerja sama dengan Apple untuk layanan satelit
  • Konstelasi baru hampir dua kali lipat dari rencana awal 3.200 satelit
  • Amazon sudah luncurkan 375+ satelit dari konstelasi awal

JBNews.id – Amazon mengajukan permohonan ke Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat untuk meluncurkan konstelasi satelit baru bernama Leo yang akan menyediakan layanan satelit langsung ke perangkat (direct-to-device) untuk panggilan suara, pesan teks, data, dan layanan darurat.

Jika disetujui regulator, Amazon akan mulai mengerahkan konstelasi baru yang terdiri dari 5.105 satelit pada tahun 2028. Langkah ini menempatkan Amazon sebagai pesaing langsung Starlink milik SpaceX di segmen konektivitas satelit yang semakin kompetitif.

Menurut dokumen aplikasi yang diungkap Advanced Television, Amazon menyatakan akan bermitra dengan operator jaringan seluler untuk menawarkan layanan satelit langsung ke perangkat. Model kemitraan ini mirip dengan kerja sama Starlink dengan T-Mobile di Amerika Serikat.

Amazon sebelumnya telah mengumumkan akuisisi jaringan satelit Globalstar pada awal tahun ini. Akuisisi ini juga mencakup pengambilalihan kesepakatan Globalstar untuk menyediakan layanan satelit langsung ke perangkat bagi perangkat Apple. Amazon menyatakan konstelasi barunya akan “menggunakan spektrum Globalstar” dan berencana “berkolaborasi dengan Apple untuk layanan satelit masa depan menggunakan jaringan yang diperluas.”

Permohonan FCC Amazon juga mencakup permintaan untuk menggunakan spektrum yang dialokasikan ke jaringan satelit Iridium di luar Amerika Serikat. Langkah ini terjadi di tengah proses akuisisi Iridium oleh Rocket Lab yang berencana memperluas jaringan tersebut.

Melengkapi Layanan Broadband

Konstelasi baru dan layanan langsung ke perangkat ini akan “melengkapi” layanan broadband yang juga direncanakan Amazon melalui platform Leo-nya. Selain untuk layanan satelit konsumen, teknologi ini juga akan digunakan untuk respons bencana dan pengiriman pesan darurat.

Amazon menjelaskan bahwa satelit direct-to-device yang baru “akan memproses sinyal di orbit sebelum menyampaikannya untuk meningkatkan kinerja.” Pendekatan pemrosesan on-orbit ini membedakan teknologi Amazon dari beberapa pesaingnya.

Konstelasi baru ini hampir dua kali lipat ukuran konstelasi Leo awal Amazon, yang direncanakan mencakup sekitar 3.200 satelit. Hingga 2 Juli, Amazon menyatakan “lebih dari 375” satelit dari konstelasi awal telah diluncurkan. Sebagai perbandingan, Amazon sebelumnya telah mengambil langkah awal dengan 396 satelit untuk menantang dominasi Starlink.

Langkah Amazon ini menandai eskalasi signifikan dalam persaingan layanan satelit orbit rendah Bumi (LEO). Dengan total lebih dari 8.300 satelit yang direncanakan dari kedua konstelasi, Amazon membangun infrastruktur komunikasi luar angkasa terbesar kedua setelah Starlink.

Implikasi untuk Konsumen

Layanan direct-to-device memungkinkan ponsel biasa terhubung ke satelit tanpa memerlukan antena atau perangkat keras tambahan. Teknologi ini sangat relevan untuk daerah terpencil yang tidak memiliki infrastruktur jaringan seluler.

Bagi pengguna di Indonesia, layanan ini berpotensi mengatasi kesenjangan konektivitas di wilayah timur dan daerah pedesaan. Namun, ketersediaan layanan di Indonesia masih bergantung pada regulasi lokal dan kemitraan dengan operator telekomunikasi dalam negeri.

Persaingan antara Amazon, Starlink, dan pemain lain seperti Project Kuiper diperkirakan akan mendorong penurunan harga dan peningkatan kualitas layanan konektivitas satelit global. Implikasi dari persaingan ini adalah akses internet yang lebih terjangkau dan merata, terutama di negara berkembang.

Dengan akuisisi Globalstar dan kerja sama dengan Apple, Amazon memposisikan diri sebagai pemain kunci dalam ekosistem layanan satelit. Kolaborasi dengan Apple khususnya membuka peluang integrasi mendalam dengan ekosistem perangkat iOS.

Amazon juga diketahui tengah menghadapi berbagai tantangan, termasuk insiden keamanan di data center Bahrain yang terkait eskalasi konflik regional. Ekspansi besar-besaran ini menunjukkan komitmen Amazon terhadap infrastruktur komunikasi global meskipun menghadapi risiko geopolitik.

Selain itu, Amazon juga terus berinovasi di sektor hiburan digital dengan menggabungkan Prime Video dengan layanan game streaming. Diversifikasi bisnis ini memperkuat posisi Amazon sebagai perusahaan teknologi multidimensi.

Persetujuan FCC atas aplikasi ini akan menjadi tonggak penting bagi industri satelit komersial. Jika disetujui, Amazon akan memulai penyebaran satelit pada 2028, memberikan tekanan kompetitif yang lebih besar pada pemain yang sudah ada.

Keputusan FCC diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa bulan mendatang, mengingat meningkatnya permintaan akan spektrum dan orbit untuk layanan satelit broadband.