AI BRIN Prediksi Badai Matahari 4 Hari Sebelum Hantam Bumi

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi badai matahari dengan semburan plasma dari permukaan Matahari yang ditangkap oleh satelit NASA SDO
  • BRIN mengembangkan AI bernama Bz4SWx untuk prediksi badai Matahari
  • Sistem mampu memberikan peringatan dini hingga 4 hari (96 jam) sebelum dampak
  • AI memprediksi kekuatan medan magnet (komponen Bz) dari lontaran massa korona (CME)
  • Model menggunakan multi-modal deep learning dan attention mechanism
  • Prediksi mencakup skala badai geomagnetik dari G1 (ringan) hingga G5 (ekstrem)
  • Dampak badai ekstrem: rusak transformator listrik, ganggu satelit, navigasi, komunikasi
  • Contoh historis: pemadaman listrik Quebec, Kanada 1989 akibat badai geomagnetik
  • BRIN kembangkan melalui inisiatif Research in AI for Space (R.A.I.Se)
  • Teknologi bantu mitigasi risiko bagi operator satelit, pengelola listrik, penyedia komunikasi

JBNews.id — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem kecerdasan buatan (AI) yang mampu memprediksi tingkat bahaya badai Matahari hingga empat hari sebelum menghantam Bumi. Teknologi ini diharapkan membantu sektor strategis mengantisipasi gangguan pada satelit, komunikasi, navigasi, hingga jaringan listrik.

Peneliti Pusat Riset Antariksa (PRA) BRIN, Tiar Dani, mengatakan sistem AI tersebut dirancang untuk memprediksi kekuatan medan magnet badai Matahari. Faktor ini menentukan seberapa besar dampaknya terhadap Bumi. “Sama seperti menghadapi badai di daratan, kita juga perlu mengetahui seberapa kuat badai Matahari agar dapat menyiapkan langkah mitigasi yang tepat,” ujar Tiar, Senin (29/6/2026).

Ancaman badai Matahari tidak hanya ditentukan oleh besarnya lontaran massa korona atau coronal mass ejection (CME), tetapi juga oleh arah medan magnet antarplanet yang dibawanya. Dalam ilmu fisika antariksa, komponen tersebut dikenal sebagai Bz. Apabila medan magnet itu mengarah ke selatan selama beberapa jam, perlindungan alami Bumi menjadi lebih mudah ditembus partikel berenergi tinggi dari Matahari. Dampaknya dapat memicu badai geomagnetik yang mengganggu satelit, sistem navigasi, komunikasi radio, hingga infrastruktur kelistrikan.

Tiar menjelaskan, memprediksi arah dan kekuatan komponen Bz merupakan tantangan besar dalam ilmu cuaca antariksa yang selama ini dikenal sebagai “The Bz Problem.” Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti BRIN mengembangkan model AI berbasis multi-modal deep learning bernama Bz4SWx. Model ini mampu memperkirakan nilai minimum Bz sekaligus memprediksi kapan kondisi paling berbahaya itu akan terjadi dalam rentang waktu hingga 96 jam setelah terjadi CME.

Jika prediksi menunjukkan nilai Bz sangat negatif dan berlangsung cukup lama, potensi badai geomagnetik dapat meningkat dari kategori ringan (G1) hingga ekstrem (G5). “Pada skala ringan mungkin hanya terjadi fluktuasi kecil pada jaringan listrik atau muncul aurora. Namun jika mencapai skala G5, dampaknya bisa sangat serius,” kata Tiar.

Ia mencontohkan, badai geomagnetik ekstrem dapat merusak transformator listrik seperti yang pernah terjadi di Quebec, Kanada, pada 1989. Selain itu, badai juga berpotensi mengganggu komunikasi radio penerbangan, sistem navigasi, hingga membuat satelit kehilangan orbit akibat meningkatnya kerapatan atmosfer bagian atas.

Badai Matahari Oktober 2024

Keunggulan Bz4SWx terletak pada kemampuannya mengolah berbagai jenis data sekaligus. Tiar mengibaratkan cara kerja sistem tersebut seperti dokter spesialis yang tidak hanya mengukur suhu tubuh pasien, tetapi juga memanfaatkan hasil rontgen dan pemeriksaan lainnya sebelum memberikan diagnosis.

Selain menganalisis kecepatan dan arah CME, AI juga mempelajari magnetogram, yaitu citra medan magnet Matahari saat peristiwa CME terjadi. Dari kombinasi berbagai data tersebut, sistem memperoleh gambaran lebih utuh mengenai karakteristik badai yang sedang berkembang.

Model ini juga memanfaatkan teknologi attention mechanism, salah satu inovasi penting dalam perkembangan AI modern. Teknologi tersebut memungkinkan sistem memusatkan analisis pada area Matahari yang paling berpotensi memicu badai geomagnetik kuat. “Seperti mata manusia yang secara otomatis akan fokus pada objek yang paling mencolok atau berbahaya,” jelasnya.

Hasil penelitian menunjukkan sistem AI yang dikembangkan BRIN mampu memprediksi intensitas medan magnet badai Matahari dengan tingkat akurasi yang menjanjikan. Hal terpenting, sistem tersebut dapat memberikan peringatan dini hingga empat hari sebelum badai mencapai Bumi. Waktu tersebut dinilai sangat krusial bagi operator satelit, pengelola jaringan listrik, penyedia layanan komunikasi, hingga berbagai sektor lain yang bergantung pada teknologi antariksa untuk melakukan langkah mitigasi lebih awal.

“Dengan informasi yang lebih cepat dan akurat, risiko gangguan akibat cuaca antariksa ekstrem dapat diminimalkan,” kata Tiar.

Disampaikannya, BRIN akan terus mengembangkan Bz4SWx melalui inisiatif Research in AI for Space (R.A.I.Se) di bawah Kelompok Riset Matahari dan Aktivitasnya, Pusat Riset Antariksa BRIN. Melalui pengembangan tersebut, Indonesia diharapkan memiliki sistem peringatan dini cuaca antariksa yang semakin andal untuk melindungi infrastruktur teknologi nasional dari ancaman badai Matahari ekstrem.

Pengembangan sistem AI ini menjadi bagian dari upaya BRIN untuk memperkuat riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Teknologi peringatan dini cuaca antariksa ini dinilai krusial di tengah meningkatnya ketergantungan manusia pada satelit dan infrastruktur telekomunikasi.

Bagi pengelola infrastruktur strategis, informasi tentang potensi badai Matahari empat hari sebelumnya memberi waktu untuk menonaktifkan sementara peralatan sensitif, mengalihkan beban listrik, atau mengamankan orbit satelit. Langkah-langkah ini dapat mencegah kerusakan permanen yang memakan biaya besar.

Peneliti BRIN juga mengingatkan bahwa badai geomagnetik skala ekstrem (G5) bukan sekadar skenario fiksi ilmiah. Peristiwa serupa pernah terjadi pada 1859 yang dikenal sebagai Peristiwa Carrington, ketika sistem telegraf di seluruh dunia terbakar. Dengan infrastruktur modern yang jauh lebih kompleks, dampak badai serupa kini bisa jauh lebih parah.

Ke depannya, BRIN berencana mengintegrasikan data dari berbagai observatorium antariksa global untuk meningkatkan akurasi prediksi. Kolaborasi internasional dinilai penting mengingat cuaca antariksa tidak mengenal batas negara.

Implikasinya jelas: sistem peringatan dini seperti Bz4SWx bukan hanya proyek riset, melainkan kebutuhan nyata untuk melindungi infrastruktur teknologi nasional. Operator satelit, pengelola jaringan listrik, dan penyedia layanan komunikasi di Indonesia kini memiliki waktu lebih untuk bersiap menghadapi ancaman yang datang dari luar angkasa.