Jbnews.id – Komedian dan aktris Rina Nose mengungkapkan mengalami sindrom post-op blues selama lima hari pada minggu pertama setelah menjalani operasi kecantikan pada hidungnya. Ia mengaku sempat merasa cemas, menyesal, dan bertanya-tanya tentang keputusannya tersebut.
Rina membagikan pengalamannya dalam tayangan Rumpi: No Secret yang tayang pada Senin (20/4/2026). Menurutnya, kecemasan itu muncul justru setelah proses operasi selesai, bukan saat sebelum atau selama tindakan. “Aku cari-cari tahu kan, orang-orang yang ngalamin itu karena gak pernah ada dimanapun, gak ada yang sharing tentang kondisi pemulihan itu gimana secara psikologi. Di luar negeri gitu, jadi dia mengalami hal serupa. Dia merasa menyesal, dia sampai nangis, dia depresilah selama 2 bulan karena dia pikir mukanya akan begitu, padahal belum selesai. Ternyata itu namanya post-op blues,” jelas Rina Nose.

Ia mengakui sempat mempertanyakan keputusannya sendiri. “Aku sempat juga sempat… ngapain sih? Kenapa sih kemarin? Tapi itu tuh karena aku melihat-melihat awalnya kan padahal masih di sini (masih) bengkak, nah cuman karena gak ada memar jadi aku pikir itu udah bentuknya, ternyata belum,” tuturnya. Pengalaman psikologis pascaoperasi ini sering kali tidak banyak dibahas, meski merupakan bagian umum dari proses pemulihan bedah plastik.
Rina juga mengaku belum sepenuhnya terbiasa dengan bentuk hidung barunya. Perbedaan penampilan di berbagai media menjadi salah satu sumber kecemasannya. “Iya, masih, masih, aku melihat di kamera, kok beda ya. Jadi kayak aku melihat di kaca, terus ke kamera, kok beda ya, gitu, gitu. Kayak di kamera handphone, melihat di kaca, ntar kalau di TV gimana ya, ntar di kamera wartawan gimana ya, gitu, gitu, gitu,” ucapnya sambil tertawa.
Baca Juga:
Fenomena post-op blues yang dialami Rina Nose ini menyoroti aspek psikologis dari prosedur bedah plastik yang kerap terabaikan. Banyak pasien, seperti yang dijelaskan Rina, tidak mendapat gambaran jelas tentang fase pemulihan mental ini. Ia menuturkan bahwa rasa takut justru tidak muncul saat operasi, melainkan setelahnya. “Dia menceritakan saat operasi gak ada rasa takut, tapi setelah selesai baru merasa kaget hingga cemas,” seperti dikutip dari penjelasannya.

Durasi post-op blues yang dialami Rina relatif singkat, yaitu lima hari pada minggu pertama. Namun, ia menyitir contoh dari luar negeri di mana seseorang bisa mengalami kondisi serupa hingga dua bulan karena mengira bentuk wajahnya sudah final padahal proses penyembuhan belum tuntas. Pengakuan publik figur seperti Rina Nose ini dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya persiapan mental dan dukungan psikologis pascaoperasi.
Pengalaman Rina ini juga menggarisbawahi bahwa hasil operasi plastik tidak langsung sempurna. Proses pembengkakan dan adaptasi tubuh membutuhkan waktu. Persepsi awal terhadap bentuk baru, seperti yang dialami Rina, seringkali belum menggambarkan hasil akhir. Ia mengaku terkecoh karena tidak adanya memar, sehingga mengira bentuk yang terlihat adalah hasil final.

Cerita Rina Nose ini menjadi bagian dari tren selebritas Indonesia yang semakin terbuka mengenai prosedur operasi kecantikan mereka. Keterbukaan ini tidak hanya membahas sisi teknis dan biaya, tetapi juga dampak emosional yang menyertainya. Dengan berbagi pengalaman tentang fase sulit seperti post-op blues, diharapkan dapat membentuk ekspektasi yang lebih realistis bagi masyarakat yang mempertimbangkan tindakan serupa.
Implikasi dari pengakuan ini adalah perlunya edukasi yang lebih komprehensif dari praktisi medis kepada calon pasien bedah plastik. Edukasi tersebut harus mencakup tidak hanya risiko fisik dan tahapan penyembuhan, tetapi juga kemungkinan gangguan psikologis sementara pascaoperasi. Pemahaman bahwa perasaan cemas atau penyesalan awal adalah hal yang wajar dan bagian dari proses dapat membantu pasien melewati masa-masa tersebut dengan lebih baik.





