Jbnews.id – Kemacetan legendaris di Simpang Karawaci, Kabupaten Tangerang, akhirnya mendapat respons konkret. Polres Metro Tangerang Kota merilis solusi terbaru pada Jumat, 24 April 2026, dengan menerapkan rekayasa lalu lintas dan penambahan personel di titik rawan kemacetan tersebut.
Simpang Karawaci selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu titik tersibuk di Tangerang. Persimpangan ini menghubungkan kawasan pusat kota, area komersial, dan permukiman padat seperti Karawaci dan Lippo Village. Volume kendaraan yang melintas setiap hari mencapai puluhan ribu unit, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Metro Tangerang Kota, AKBP Dwi Nugroho, mengonfirmasi langkah ini dalam keterangan persnya. “Kami menerapkan sistem buka tutup jalur secara dinamis berdasarkan volume kendaraan real-time. Ini adalah solusi nyata untuk mengurai kemacetan yang sudah berlangsung lama,” ujarnya.
Data dari Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang menunjukkan bahwa Simpang Karawaci mencatat rata-rata 45.000 kendaraan per hari pada tahun 2025. Angka ini diprediksi meningkat 8 persen pada tahun 2026 seiring pertumbuhan kawasan properti di sekitarnya.
Rekayasa lalu lintas yang diterapkan meliputi pengaturan waktu lampu merah yang lebih adaptif. Sistem ini menggunakan sensor kendaraan yang terintegrasi dengan pusat kendali lalu lintas. Selain itu, petugas ditempatkan di empat titik strategis untuk mengarahkan kendaraan secara manual jika diperlukan.
“Kami juga menambah 15 personel yang bertugas setiap hari di Simpang Karawaci. Mereka dilengkapi dengan komunikasi radio untuk koordinasi cepat,” tambah AKBP Dwi Nugroho.
Solusi ini merupakan bagian dari program “Tangerang Lancar 2026” yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Tangerang. Program ini menyasar 12 titik kemacetan prioritas di wilayah tersebut, termasuk Simpang Karawaci, Simpang Cikokol, dan Simpang Balaraja.
Sejumlah pengguna jalan menyambut positif langkah ini. “Saya setiap hari lewat sini menuju kantor di BSD. Biasanya butuh 30 menit hanya untuk melewati simpang ini. Hari ini terasa lebih lancar,” ujar Andi, seorang pekerja kantoran yang melintas saat jam sibuk pagi.
Meski demikian, beberapa pengendara masih mengeluhkan durasi tunggu yang panjang. “Masih macet sih, tapi lebih teratur. Petugasnya sigap mengatur kendaraan,” kata Rina, pengendara motor yang melintas dari arah Cikokol.
Polres Metro Tangerang Kota menargetkan pengurangan waktu tempuh di Simpang Karawaci sebesar 25 persen dalam dua bulan ke depan. Target ini akan dievaluasi setiap minggu berdasarkan data dari kamera pemantau lalu lintas.
Selain rekayasa lalu lintas, pemerintah daerah juga tengah mengkaji opsi jangka panjang. Opsi tersebut meliputi pembangunan flyover atau underpass di Simpang Karawaci. Namun, proyek infrastruktur ini masih dalam tahap studi kelayakan dan belum memiliki kepastian anggaran.
“Kami mendorong pengguna jalan untuk mematuhi aturan lalu lintas dan bersabar. Kerja sama semua pihak sangat diperlukan agar solusi ini berhasil,” imbau AKBP Dwi Nugroho.
Kemacetan di Simpang Karawaci bukanlah masalah baru. Sejak tahun 2018, titik ini masuk dalam daftar prioritas penanganan kemacetan di Tangerang. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari penambahan rambu hingga pengalihan arus, namun hasilnya belum optimal.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tangerang menunjukkan bahwa jumlah kendaraan bermotor di wilayah tersebut meningkat 12 persen setiap tahun. Pertumbuhan ini tidak diimbangi dengan penambahan kapasitas jalan yang memadai.
Langkah Polres Metro Tangerang Kota ini diharapkan menjadi solusi efektif dalam jangka pendek. Dengan pengaturan lalu lintas yang lebih dinamis dan pengawasan langsung di lapangan, kemacetan di Simpang Karawaci bisa berkurang signifikan.
Pengguna jalan yang melintas di Simpang Karawaci disarankan untuk memantau informasi lalu lintas terkini melalui media sosial resmi Polres Metro Tangerang Kota atau aplikasi navigasi. Alternatif rute juga tersedia melalui Jalan Raya Serang atau Jalan Palem Raya jika ingin menghindari kepadatan.
Implementasi solusi ini akan terus dipantau dan dievaluasi. Jika terbukti efektif, skema serupa akan diterapkan di titik-titik kemacetan lain di Tangerang.




