Jbnews.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon menggelar forum dialog terbuka bertajuk Merdeka Bicara pada Rabu malam (22/4/2026) di Paradiso Garden Cafe. Acara ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik dan aspirasi secara langsung kepada Wali Kota Robinsar dan jajaran Forkopimda, dengan fokus utama pada isu kekerasan seksual, infrastruktur, dan pendidikan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wali Kota Cilegon Robinsar, Wakil Wali Kota Fajar Hadi Prabowo, Dandim 0623 Cilegon, Kajari Cilegon, Wakil Ketua I dan II DPRD Kota Cilegon, Wakapolres Cilegon, Kepala Kementerian Agama, Plt. Sekda Kota Cilegon, serta jajaran pejabat eselon II. Puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan turut berpartisipasi aktif.
Wali Kota Robinsar menjelaskan bahwa forum ini merupakan komitmen pemerintah untuk membuka ruang partisipasi publik. “Kegiatan ini, kami hadirkan sebagai wadah untuk menampung aspirasi, keluhan, kritik, dan saran dari para mahasiswa. Pemerintah berkomitmen untuk membuka ruang dialog agar isu-isu yang mungkin belum terjangkau, dapat kita rencanakan ke dalam program kerja,” ujarnya, menegaskan bahwa Pemkot Cilegon bersikap terbuka terhadap kritik konstruktif.
Isu strategis yang menjadi sorotan dalam diskusi antara lain adalah kasus kekerasan dan pencabulan, permasalahan drainase dan banjir, serta peningkatan kualitas pendidikan. Terkait kekerasan, Robinsar menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum. “Terkait kasus kekerasan dan pencabulan, kami telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, baik dari kepolisian maupun kejaksaan, untuk membuka jalur komunikasi dan mempercepat penanganan melalui DP3AKB dan unit PPA,” jelasnya.
Di sektor infrastruktur, Pemkot Cilegon terus melakukan pembenahan drainase dan pengembangan taman layak anak. Sementara di bidang pendidikan, anggaran dioptimalkan melalui pemetaan kebutuhan dari APBD dan dana CSR industri. Robinsar juga memaparkan program inovatif pertanian yang akan segera berjalan, mencakup penggunaan bibit unggul. “Kami mengajak, mahasiswa yang memiliki minat di bidang pertanian untuk ikut terlibat dalam program ini sebagai bentuk kolaborasi dalam mendorong ketahanan pangan daerah,” terangnya.
Menariknya, Robinsar mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen aspirasi mahasiswa yang disampaikan telah masuk dalam perencanaan atau sedang diimplementasikan. “Forum ini, bukan ajang pembelaan diri, melainkan ruang untuk menyampaikan progres serta memperkuat komunikasi dua arah,” tegasnya.
Wakil Wali Kota Fajar Hadi Prabowo menambahkan bahwa Merdeka Bicara merupakan tindak lanjut dari aspirasi yang diterima sejak awal masa kepemimpinan. “Sejak awal kami menjabat, kami telah menerima aspirasi mahasiswa. Dari situlah muncul inisiatif untuk memfasilitasi ruang dialog,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi antusiasme tinggi mahasiswa, yang menandakan kepedulian besar terhadap pembangunan Kota Cilegon.
Sorotan tajam datang dari perwakilan mahasiswa, Sarinah Hani dari GMNI Kota Cilegon. Ia menyoroti kondisi darurat keamanan terkait maraknya kasus pelecehan seksual. “Cilegon saat ini, darurat aman terkait kasus pelecehan seksual. Kami berharap ada langkah nyata dan tegas dari pemerintah serta aparat penegak hukum agar kasus-kasus ini tidak terus berulang,” ungkapnya.
Sarinah juga mempertanyakan aksesibilitas Kantor Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta kondisi taman layak anak yang dinilai belum memenuhi standar. Ia menyoroti sarana rusak, kurangnya fasilitas ramah ibu menyusui, dan aktivitas merokok di area anak. “Harus ada pengawasan dan pembenahan yang lebih serius, karena taman layak anak seharusnya benar-benar menjadi ruang yang aman, nyaman, dan sehat bagi anak-anak,” tegasnya. Ia juga mendorong sosialisasi optimal Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) di tingkat daerah.
Sebagai penutup, Sarinah menegaskan bahwa segala bentuk pelecehan seksual tidak boleh ditoleransi. “Kami berharap, tidak ada lagi toleransi terhadap segala bentuk pelecehan seksual. Ini harus menjadi komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi semua,” ujarnya.
Forum Merdeka Bicara ini menjadi bukti nyata upaya Pemkot Cilegon dalam menjembatani komunikasi dengan generasi muda. Data terkini menunjukkan bahwa isu kekerasan menjadi perhatian serius, sejalan dengan pemberitaan sebelumnya mengenai 37 Kasus Kekerasan di wilayah tersebut. Ke depannya, implementasi program yang telah direncanakan akan menjadi tolok ukur keberhasilan dialog ini.




