Jbnews.id โ Puluhan warga di Kelurahan Serang Timur, Kota Serang, Banten, menggantungkan penghidupan harian mereka pada aktivitas memulung sampah industri dari pabrik-pabrik di kawasan tersebut. Data menunjukkan bahwa aktivitas ini telah menjadi sumber ekonomi utama bagi komunitas tersebut, meski dilakukan tanpa perlindungan keselamatan yang memadai.
Para pemulung, yang sebagian besar adalah perempuan dan lansia, bekerja setiap hari untuk mengumpulkan sisa-sisa produksi seperti plastik, kertas, dan logam. Material-material ini kemudian dijual ke pengepul dengan harga yang fluktuatif, bergantung pada jenis dan kondisi barang. Tidak ada data upah minimum yang jelas mengatur pendapatan dari aktivitas informal ini.
Lokasi kerja mereka berdekatan langsung dengan kawasan industri, menimbulkan risiko paparan bahan kimia dan limbah berbahaya. Para pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan atau masker selama beraktivitas. Kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang tanpa intervensi signifikan dari pihak berwenang setempat terkait standar kesehatan dan keselamatan kerja.
Keberadaan mata pencaharian ini menyoroti ketergantungan ekonomi masyarakat lokal pada sektor industri di sekitarnya, sekaligus menampilkan sisi lain dari pertumbuhan kawasan produksi. Aktivitas daur ulang informal yang dijalankan warga turut berkontribusi dalam pengelolaan material sisa, meski dengan mekanisme yang belum terintegrasi dalam sistem pengelolaan sampah resmi.
Fenomena ini merefleksikan dinamika sosial-ekonomi di daerah penyangga kawasan industri, di mana masyarakat menciptakan lapangan kerja sendiri dari sumber daya yang tersedia. Ketahanan hidup komunitas ini bergantung pada kontinuitas operasi pabrik dan permintaan pasar terhadap barang-barang bekas pakai.




