Survei Global: China Dianggap Ungguli AS di AI

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi robot memberi hormat di depan bendera China melambangkan dominasi AI China
  • Survei Public First menunjukkan 11 dari 15 negara nilai China ungguli AS di AI
  • Hanya 51% warga AS yakin negaranya dominan di AI
  • 49% responden Meksiko dan 40% Kanada nilai China unggul
  • Model AI AS dinilai boros sumber daya dan eksploitatif
  • China terapkan regulasi berfokus rakyat dengan persaingan ketat

JBNews.id β€” Sebuah survei global yang dirilis oleh firma riset Inggris, Public First, mengungkapkan bahwa mayoritas responden di 11 dari 15 negara yang disurvei kini menilai China telah melampaui Amerika Serikat dalam hal kapabilitas dan inovasi kecerdasan buatan (AI). Temuan ini memberikan gambaran baru dalam persepsi publik mengenai persaingan teknologi antara dua negara adidaya tersebut.

Survei yang pertama kali dilaporkan oleh Politico ini menunjukkan bahwa hanya responden di Jepang, India, Vietnam, dan AS sendiri yang masih berpihak pada Negeri Paman Sam. Bahkan di dalam negeri AS, sentimen publik tidak terlalu optimistis. Hanya 51 persen warga negara AS yang menganggap negara mereka masih mendominasi perlombaan AI. Sebanyak 24 persen responden AS menyatakan China yang memimpin, sementara 25 persen lainnya menjawab β€œtidak tahu.” Fakta bahwa hampir setengah dari responden AS meragukan kemampuan AI negara sendiri menjadi sinyal yang signifikan.

Pendapat dari negara tetangga AS juga menarik untuk dicermati. Di Meksiko, hanya 36 persen responden yang menganggap AS unggul, sementara 49 persen mengatakan China memegang kendali. Opini di Kanada bahkan lebih tajam: hanya 27 persen responden yang mendukung AS, sementara 40 persen memilih China. Sekutu tradisional AS seperti Prancis memiliki opini yang identik dengan Kanada, sementara Inggris mencatatkan 26 persen untuk AS dan 44 persen untuk China.

Comic composite illustration featuring a robot saluting in front of a waving Chinese flag.

Pergeseran opini global ini memunculkan pertanyaan apakah hal tersebut mencerminkan rasa jijik yang semakin besar terhadap model pengembangan AI ala Silicon Valley, atau kekaguman tulus terhadap pendekatan China. Model AS digambarkan boros sumber daya dan merusak lingkungan, serta didorong oleh konsolidasi kekuatan korporasi yang paling kuat yang pernah ada. Sementara itu, China menerapkan regulasi yang berfokus pada kepentingan rakyat dengan persaingan ketat yang membuat pemain nomor satu hari ini bisa menjadi yang terendah esok hari.

Yang jelas, jika industri teknologi AS berniat terus memperkuat strateginya yang eksploitatif dan memusuhi pekerja, mereka menghadapi krisis legitimasi serius yang tidak bisa diselesaikan oleh satu perusahaan pun. Temuan survei ini menjadi peringatan keras bagi para pemangku kepentingan di industri AI global.