Polisi Vancouver Gunakan AI untuk Edit Foto Barang Bukti

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi polisi dengan tangan terangkat dalam warna merah terang sebagai representasi kontroversi penggunaan AI oleh aparat hukum
  • Kepolisian Vancouver unggah foto barang bukti narkoba dengan label "made with AI" di platform X
  • Gambar asli menunjukkan barang bukti kecil, namun versi AI menunjukkan kejanggalan pada pecahan uang
  • Sersan Adam Donalson beralasan AI digunakan untuk mengedit nama tersangka
  • Publik bereaksi keras dan khawatir kasus akan dibatalkan karena bukti palsu
  • Insiden ini menambah daftar kontroversi penggunaan AI oleh aparat penegak hukum global

JBNews.id — Kepolisian Vancouver, Kanada, memicu kontroversi setelah mengunggah gambar hasil tangkapan narkoba yang diberi label “made with AI” di platform X (sebelumnya Twitter). Insiden ini menambah daftar panjang kontroversi penggunaan kecerdasan buatan oleh aparat penegak hukum di seluruh dunia.

Menurut laporan CTV News Kanada, gambar asli yang diunggah memperlihatkan barang bukti berupa sejumlah kecil uang tunai dan berbagai jenis narkoba dalam jumlah kecil. Sekilas, tidak ada yang tampak aneh pada gambar tersebut. Namun, saat diperhatikan lebih saksama, lembaran uang menunjukkan kejanggalan: uang pecahan $50 tertulis sebagai $20, sementara uang $100 terbaca sebagai “00”.

Ditanya oleh CTV mengapa pihak kepolisian menggunakan AI untuk memanipulasi gambar, Sersan Adam Donalson dari Kepolisian Vancouver menyatakan bahwa “kami menggunakan perangkat lunak untuk mengedit nama-nama tersangka.” Respons ini membingungkan, mengingat gambar asli menunjukkan barang bukti yang ditata di atas papan kardus dengan label spidol.

Donalson kemudian menjelaskan bahwa gambar buatan AI tersebut “telah dihapus dan diganti dengan foto asli yang telah dipotong untuk mengecualikan nama-nama tersangka,” membuat situasi semakin rumit. “Anda mengklaim ini foto ‘asli’ dari barang sitaan dibandingkan dengan gambar AI yang Anda unggah beberapa jam lalu dan hapus?” tulis seorang pengguna X dengan akun @d_boeckner pada 25 Juni 2026.

Kasus ini bukanlah yang pertama kalinya aparat kepolisian bermasalah dengan AI. Sebelumnya, petugas polisi di berbagai wilayah telah menggunakan alat terintegrasi AI yang menghasilkan laporan polisi hallucinated, bukti yang dipalsukan dengan AI generatif, dan bahkan insiden penguntitan melalui kamera pengawas terintegrasi AI.

Masyarakat Vancouver bereaksi keras terhadap tindakan kepolisian tersebut. “Anda menampilkan gambar buatan AI dari bukti palsu kepada publik, yang mencakup calon juri,” tulis seorang warganet dengan nada geram di bawah gambar yang diperbarui. “Seluruh kasus ini akan dibatalkan.” Pengguna lain menambahkan, “Mana foto AI yang Anda unggah sebelumnya? Saya suka dibohongi polisi, itu bagus untuk membangun kepercayaan!”

Insiden ini menunjukkan risiko serius penggunaan AI generatif oleh institusi publik, terutama yang berkaitan dengan proses peradilan. Penggunaan teknologi AI yang tidak tepat dapat merusak kredibilitas bukti dan berpotensi menggagalkan proses hukum. Kasus di Vancouver menjadi pengingat penting bahwa adopsi AI oleh aparat penegak hukum memerlukan protokol yang ketat dan pengawasan yang transparan.

Ke depannya, kasus serupa kemungkinan akan semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor. Kolaborasi antar perusahaan untuk mengembangkan teknologi AI yang lebih andal menjadi semakin krusial. Tanpa regulasi yang jelas dan pedoman etika yang ketat, penggunaan AI oleh aparat penegak hukum dapat mengancam integritas sistem peradilan dan kepercayaan publik.