Pindai Laser Ungkap Peradaban Kuno Aquiry di Amazon

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Peradaban kuno Amazon terungkap melalui pemindaian laser lidar
  • Teknologi pemindaian laser lidar mengungkap peradaban kuno Aquiry di Amazon, Brasil
  • Peradaban Aquiry muncul 2.500 tahun lalu dengan populasi diperkirakan hingga 3 juta jiwa
  • Survei seluas 4.500 km persegi menemukan 396 geoglif baru yang dipublikasikan di jurnal Nature
  • Peneliti memperkirakan lebih dari 20.000 struktur tanah Aquiry masih belum ditemukan
  • Peradaban ini runtuh antara tahun 850-950 M, kemungkinan terkait peradaban Maya Klasik dan Tiwanaku
  • Geoglif dibangun antara 600 SM hingga 850 M oleh masyarakat yang membudidayakan jagung dan labu

JBNews.id — Teknologi pemindaian laser berhasil mengungkap keberadaan peradaban kuno misterius di jantung hutan hujan Amazon. Arkeolog menemukan ratusan struktur tanah kuno yang dibangun oleh masyarakat kompleks bernama Aquiry lebih dari dua milenium silam, dengan perkiraan populasi hingga 3 juta jiwa sebelum peradaban tersebut runtuh.

Peradaban Aquiry muncul sekitar 2.500 tahun lalu di Brasil. Temuan ini dipublikasikan dalam studi di jurnal Nature oleh Martti Parssinen, arkeolog Universitas Helsinki, beserta koleganya. Mereka memaparkan hasil survei terhadap area hutan Amazon seluas hampir 4.500 kilometer persegi menggunakan teknologi lidar atau light detection and ranging.

Survei tersebut mengungkap 396 geoglif baru dan memungkinkan peneliti memperkirakan rentang geografis peradaban Aquiry. Geoglif merupakan struktur tanah berbentuk geometris monumental yang ditandai parit-parit dalam serta tanggul luar yang tinggi.

“Berbagai budaya dan masyarakat yang membentuk Aquiry berbagi pandangan dunia yang sama dan membangun pusat-pusat upacara dalam berbagai bentuk geometris monumental, ditandai parit-parit dalam serta tanggul luar yang tinggi, atau yang umumnya dikenal sebagai geoglif Amazon,” kata Parssinen.

Parssinen telah meneliti berbagai struktur tanah geometris di negara bagian Acre, Brasil, selama lebih dari dua dekade. Dalam studi tahun 2021, ia memperkenalkan nama Aquiry untuk peradaban kuno multikultural tersebut. Nama itu diambil dari nama Sungai Acre.

Keterbatasan Penelitian dan Bukti dari Pemindaian Laser

Akibat lebatnya pepohonan, penyelidikan di area ini terbilang terbatas. Sebagian besar bukti peradaban Aquiry diperoleh dari lidar dan pemindaian laser terhadap geoglif-geoglif yang dibangun antara tahun 600 SM hingga 850 M. Masyarakatnya tinggal di rumah panjang di sekitar struktur tanah tersebut dan membudidayakan tanaman seperti jagung serta labu.

“Menurut tradisi lisan penduduk asli, pusat-pusat Aquiry dibangun untuk membina hubungan antar komunitas serta dengan makhluk supranatural yang penting,” ujar Parssinen yang dikutip dari Live Science, Jumat (31/7/2026).

Hingga saat ini, para arkeolog telah mengidentifikasi sekitar 1.700 geoglif yang diketahui di area tersebut. Namun, para peneliti meyakini jumlah totalnya jauh lebih tinggi. Lebih dari 20.000 struktur tanah Aquiry masih menunggu untuk ditemukan di tempat-tempat yang belum disurvei.

Peradaban kuno Amazon

Perkiraan Populasi dan Puncak Kejayaan

Berdasarkan perkiraan bahwa dibutuhkan rata-rata 300 orang untuk membangun dan merawat setiap geoglif, para peneliti mengestimasi peradaban Aquiry kemungkinan mencapai puncak kejayaannya dengan populasi antara 1,25 juta hingga 3 juta jiwa. Periode tersebut berlangsung antara tahun 100 hingga 300 M.

Geoglif serupa yang bertarikh antara 200 SM hingga 500 M juga ditemukan di Peru. Struktur tanah ini dikenal sebagai Nazca Lines dan berbentuk hewan, manusia, tumbuhan, serta sosok-sosok fantastis.

Keberadaan ribuan geoglif di barat daya Amazon ini memunculkan tanda tanya seputar nasib peradaban Aquiry. Bukti yang ada saat ini mengarah pada keruntuhan relatif cepat yang mungkin terkait lenyapnya kekuatan besar pra kolonial lainnya.

“Kita tidak tahu mengapa geoglyph tiba-tiba ditinggalkan antara tahun 850 dan 950 M. Bukti yang tersedia menunjukkan keruntuhan relatif cepat yang mungkin terkait hilangnya kekuatan pra-kolonial utama lainnya termasuk peradaban Maya Klasik di Amerika Tengah dan peradaban Tiwanaku dan Wari di Andes,” sebutnya.

Temuan ini menjadi bukti bahwa teknologi pemindaian laser mampu menembus hambatan geografis yang selama ini membatasi penelitian arkeologi di kawasan hutan tropis. Dengan semakin luasnya area yang disurvei, para ilmuwan optimistis akan menemukan lebih banyak lagi struktur tanah yang tersembunyi di balik kanopi hutan Amazon.

Implikasi dari penelitian ini sangat luas. Selain memperkaya pemahaman tentang sejarah peradaban manusia di Amerika Selatan, temuan ini juga membuka peluang penelitian lebih lanjut tentang bagaimana masyarakat kuno beradaptasi dengan lingkungan hutan hujan yang ekstrem. Pola pembangunan yang terstruktur menunjukkan tingkat organisasi sosial yang tinggi, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa ke benua Amerika.

Bagi para arkeolog dan sejarawan, data baru dari survei lidar ini menjadi dasar penting untuk memahami dinamika populasi, sistem sosial, dan faktor-faktor yang menyebabkan keruntuhan peradaban Aquiry. Pertanyaan tentang mengapa peradaban sebesar ini bisa lenyap dalam rentang waktu relatif singkat masih menjadi misteri yang menunggu jawaban dari penelitian-penelitian selanjutnya.

Penelitian lanjutan diharapkan dapat mengungkap lebih detail tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Aquiry, termasuk sistem pertanian, perdagangan, dan interaksi antar komunitas. Setiap temuan baru akan semakin melengkapi gambaran tentang salah satu peradaban paling misterius yang pernah menghuni bumi Amazon.