Peretasan Suno: Bocor 2 Juta Lagu untuk Latih AI Musik

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi piringan hitam hancur melambangkan hak cipta musik yang dilanggar oleh AI Suno
  • Peretas ellie.191 membocorkan detail pengambilan data musik oleh Suno dari YouTube Music, Genius, Deezer, dan platform lainnya.
  • Skala pengambilan data mencapai 2.013.545 klip musik dari YouTube saja, setara 113.879 jam.
  • Data sensitif pengguna Suno, termasuk informasi pembayaran Stripe, juga ikut bocor.
  • Suno mengklaim menggunakan file musik publik dan metadata dari internet terbuka untuk melatih AI.
  • Hasil uji coba menunjukkan Suno dapat mereplikasi musik artis terkenal, bertentangan dengan klaim perusahaan.
  • Kasus ini berimplikasi pada regulasi AI, hak cipta, dan privasi data di industri kreatif.

JBNews.id — Seorang peretas berhasil membocorkan detail bagaimana aplikasi pembangkit musik AI, Suno, mengambil jutaan lagu dari berbagai platform web, termasuk konten berhak cipta, untuk melatih model kecerdasan buatannya. Data ini terungkap setelah peretas yang menggunakan nama samaran ellie.191 membagikan temuannya kepada 404 Media.

Suno saat ini sedang menghadapi beberapa gugatan hukum terkait hak cipta. Perusahaan tersebut sebelumnya mengakui dalam tanggapan hukumnya bahwa mereka menggunakan “pada dasarnya semua file musik berkualitas wajar yang dapat diakses di internet terbuka” untuk melatih AI pembangkit musik mereka. Pengakuan ini menjadi dasar dari kontroversi yang kini meluas.

Skala Masif Pengambilan Data

Menurut laporan 404 Media, peretasan ini mengungkap bagaimana musik berhak cipta diperoleh dan dialirkan ke dalam kumpulan data (dataset) Suno. Platform musik yang menjadi sumber mencakup YouTube Music, Genius, dan Deezer, serta perpustakaan musik stok seperti Jamendo, Freesound, Pond5, dan International Music Score Library Project (IMSLP).

Kode sumber yang diperoleh peretas menunjukkan skala luar biasa dari pengambilan musik ini. Sebuah file berjudul “youtube_music” tercatat berisi “2.013.545 klip musik.” File lain mencatat bahwa dataset AI Suno menyimpan “113.879 jam youtube_music.” Secara keseluruhan, file tersebut tampaknya menampung ratusan ribu jam musik dari seluruh web.

Skala ini sejalan dengan tren adopsi teknologi AI di industri lain. Misalnya, Chatbot AI dari Spotify juga mulai diuji untuk pengguna premium, menunjukkan bagaimana raksasa teknologi memanfaatkan AI untuk meningkatkan layanan mereka.

Data Pengguna Turut Bocor

Peretas yang sama, ellie.191, juga mengklaim kepada 404 Media bahwa mereka dapat melihat data sensitif pengguna Suno, termasuk informasi pembayaran Stripe. Hal ini menimbulkan kekhawatiran baru terkait keamanan data pribadi pengguna aplikasi tersebut.

Dalam pernyataannya kepada 404 Media, Suno menegaskan bahwa “seperti yang telah kami nyatakan dalam pengajuan dan pengungkapan publik, model AI Suno telah dilatih pada file musik yang tersedia untuk umum dan metadata terkait yang dapat diakses di situs web pihak ketiga di Internet terbuka.” Perusahaan juga bersikeras bahwa “tujuan kami selalu membantu orang menciptakan musik orisinal baru, bukan meniru karya orang lain.”

Pernyataan ini muncul di tengah maraknya inovasi alat musik digital. Sebagai perbandingan, Groovebox Modular dari Nopia menawarkan pendekatan berbeda dalam berkreasi musik tanpa bergantung pada AI generatif.

Kemampuan Replikasi yang Dipertanyakan

Pernyataan Suno tentang tidak ingin meniru karya orang lain bertentangan dengan hasil pengujian ekstensif. Berbagai uji coba menunjukkan bagaimana Suno dapat dengan mudah mereplikasi musik yang sudah diterbitkan, termasuk karya artis terkenal. Temuan ini memperkuat keraguan atas klaim perusahaan.

CEO Suno sebelumnya pernah menyatakan bahwa orang “tidak menikmati” membuat musik dengan instrumen, sebuah pernyataan kontroversial yang menuai kritik dari musisi dan pelaku industri. Kasus ini menjadi sorotan utama dalam diskusi tentang batasan etika AI generatif di industri kreatif.

Dengan bocornya data 2 juta lagu ini, publik semakin bisa melihat praktik di balik layar pengembangan AI musik. Implikasi hukum dan etika dari kasus ini diperkirakan akan memengaruhi regulasi AI di masa depan, terutama terkait hak cipta dan privasi data pengguna.

Ilustrasi foto berwarna menampilkan piringan hitam yang hancur.