JBNews.id — Miliarder teknologi dan biohacker Bryan Johnson kembali membuat heboh dengan mengaku telah “mengkloning” dirinya sendiri dalam bentuk bayi. Namun, Johnson tidak menciptakan bayi manusia sungguhan. “Klon” yang disebutnya sebagai Baby Bryan merupakan kumpulan sel punca hasil rekayasa yang saat ini hidup di dalam cawan petri.
Pengumuman tersebut disampaikan Johnson melalui akun X miliknya pada 21 Juli 2026. Dengan gaya dramatis, ia mengatakan baru saja menciptakan versi bayi dari dirinya sendiri. “Saya baru saja mengkloning diri saya… sebagai bayi yang baru lahir,” tulis Johnson.
Pernyataan itu langsung memicu perdebatan. Sebagian pengikutnya menganggap eksperimen tersebut sebagai langkah berani dalam penelitian umur panjang. Namun, tidak sedikit pula yang menilai Johnson sudah kelewat batas. “Midlife crisis-nya bahkan berlari lebih cepat dari jadwal,” canda seorang netizen. Pengguna lainnya memberikan dukungan dengan mengatakan bahwa seseorang harus berani melakukan eksperimen hari ini agar teknologi serupa dapat diwujudkan pada masa depan.
Apa Itu ‘Baby Bryan’?
Baby Bryan dibuat menggunakan teknologi induced pluripotent stem cell atau iPSC. Dalam proses ini, sel dewasa yang diambil dari darah Johnson diprogram ulang menjadi sel punca dengan karakteristik menyerupai sel embrio. Sel tersebut memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi beragam jenis sel dan jaringan tubuh.
Secara teori, iPSC bisa dimanfaatkan untuk penelitian penyakit, pengujian obat, hingga pengembangan jaringan yang memiliki kecocokan genetik dengan pemilik sel. Karena berasal dari tubuhnya sendiri, Johnson menyebut Baby Bryan sebagai versi biologis dirinya ketika masih sangat muda. Namun, sel-sel tersebut belum membentuk bayi maupun organisme manusia utuh.
“Baby Bryan ini tinggal di cawan petri untuk sementara,” kata Johnson. Ia berharap sel tersebut suatu hari dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan darah, jaringan, bahkan organ yang identik secara genetik dengan dirinya. Organ atau jaringan itu kemudian berpotensi digunakan untuk memperbaiki tubuhnya ketika menua.
“Dengan klon ini, saya bisa menjadi ‘blood boy’ saya sendiri, menguji terapi pada klon, menumbuhkan organ untuk transplantasi, mengembangkan pengobatan baru, dan menyuntikkan sel-sel muda,” paparnya.

Meski demikian, berbagai ambisi tersebut masih bersifat eksperimental. Menumbuhkan organ manusia utuh yang aman dan siap ditransplantasikan dari sel iPSC masih menghadapi tantangan ilmiah serta medis yang kompleks.
Baca Juga:
Bermula dari Diagnosis Penyakit Autoimun
Eksperimen Baby Bryan dilakukan setelah Johnson didiagnosis mengidap autoimmune gastritis atau AIG. Ini merupakan penyakit kronis ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel pada lapisan lambung. Kondisi tersebut dapat mengganggu produksi asam lambung dan kemampuan tubuh menyerap nutrisi, terutama zat besi dan vitamin B12.
Dalam jangka panjang, pasien juga perlu menjalani pemantauan karena penyakit ini dapat meningkatkan risiko komplikasi tertentu. Belum ada pengobatan yang benar-benar dapat menyembuhkan AIG. Penanganannya umumnya berfokus pada pemenuhan nutrisi, mengatasi gejala, dan memantau kondisi lambung pasien.
Alih-alih menganggapnya sebagai kabar buruk, Johnson menyebut diagnosis tersebut sebagai salah satu hal terbaik yang terjadi kepadanya dalam waktu lama. Kondisi itu mendorongnya mencari pendekatan baru untuk memahami dan memperbaiki tubuhnya.

Teknologi Pemenang Nobel
Teknologi iPSC yang digunakan Johnson sebenarnya bukan penemuan baru. Penelitian sel punca tersebut dipelopori ilmuwan Jepang Shinya Yamanaka, yang berhasil menunjukkan bahwa sel dewasa dapat diprogram ulang menjadi sel pluripoten. Temuan itu mengantarkan Yamanaka meraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada 2012.
Teknologi iPSC kini banyak diteliti untuk mempelajari penyakit, menguji kandidat obat, dan mengembangkan terapi regeneratif. Johnson percaya kombinasi sel punca, kecerdasan buatan, dan penelitian DNA dapat membuka jalan untuk mengatasi penyakit yang saat ini belum dapat disembuhkan. Namun, eksperimen tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai keamanan dan batas etika. Sel yang diprogram ulang harus melalui pengujian ketat karena berisiko mengalami pertumbuhan tidak terkendali atau membentuk tumor.
Perkembangan teknologi sel punca ini sejalan dengan pesatnya inovasi di sektor teknologi lainnya. Namun, tidak semua perkembangan teknologi diterima tanpa kritik. Sebagaimana penolakan Gen Z terhadap AI yang diungkap Christopher Nolan, eksperimen Johnson juga menuai pro dan kontra di publik.

Bryan Johnson Sempat Merasa Keterlaluan
Beberapa hari setelah memperkenalkan Baby Bryan, Johnson justru mengaku mulai mempertanyakan perjalanan ekstremnya dalam mengejar umur panjang. “Saya sudah berpikir-pikir, apakah saya sudah terlalu jauh dengan urusan longevity ini,” tulisnya di X pada 29 Juli.
Pernyataan itu kembali mengundang beragam komentar. Ada yang menyarankan Johnson memasang target lebih realistis, misalnya hidup sehat hingga usia 115 atau 120 tahun. Pengguna lain justru memintanya terus melanjutkan eksperimen tersebut.
Johnson memang dikenal menjalani rutinitas ketat untuk memperlambat penuaan. Ia bangun sekitar pukul 05.00, berolahraga setiap hari, menjalani sauna dan terapi cahaya merah, serta menerapkan perawatan kulit secara terperinci. Ia juga mengonsumsi berbagai suplemen dan obat resep, memantau banyak indikator kesehatan, serta membatasi waktu makan sebelum siang.

Salah satu eksperimennya yang paling kontroversial adalah transfusi plasma darah dari putranya yang masih remaja. Johnson kemudian menghentikan eksperimen itu setelah tidak menemukan manfaat yang dapat diukur.
Kini, Baby Bryan menjadi babak terbaru dalam obsesinya menaklukkan penuaan. Belum diketahui apakah kumpulan sel tersebut akan menghasilkan terobosan medis atau hanya menjadi eksperimen kontroversial berikutnya. Namun satu hal yang pasti, Johnson tampaknya belum berniat menghentikan ambisinya untuk membuat tubuh manusia bertahan selama mungkin.
Fenomena ini menarik untuk dicermati di tengah meningkatnya investasi teknologi kesehatan. Sebagaimana dampak ekonomi dari data center AI yang sedang berlangsung, eksperimen seperti ini juga berpotensi mempengaruhi arah industri bioteknologi ke depan. Pertanyaan tentang etika dan keamanan akan terus mengiringi setiap langkah inovasi di bidang ini.




