Larangan Robot AS Jangkau Robot Vacuum dan Lawn Mower

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi robot vacuum cleaner yang terdampak larangan impor FCC Amerika Serikat
  • FCC AS melarang impor "perangkat robot canggih" termasuk robot vacuum, robot pemotong rumput, dan robot pengantar barang
  • Definisi larangan mencakup robot dengan berat >4,4 pon, berkonektivitas nirkabel, dan mampu memahami lingkungan
  • Hampir semua robot vacuum diproduksi di China, termasuk Roomba yang kini dimiliki perusahaan China
  • Perusahaan AS sekalipun harus bersumpah produknya dibuat di AS untuk mendapatkan pengecualian
  • Robot yang sudah dimiliki konsumen tidak akan disita
  • Pengecualian diberikan untuk mobil otonom, drone, robot bedah, dan lengan robot industri

JBNews.id — Pemerintah Amerika Serikat resmi melarang impor “perangkat robot canggih” (advanced robotic devices) dan larangan ini tidak hanya menyasar robot humanoid, tetapi juga mencakup robot vacuum cleaner, robot pemotong rumput, dan robot pengantar barang. Kebijakan yang diumumkan oleh Komisi Komunikasi Federal (FCC) ini didasarkan pada alasan keamanan nasional.

Direktur Hubungan Media FCC, Katie Gorscak, mengonfirmasi kepada The Verge bahwa larangan tersebut akan menjangkau robot vacuum cleaner. Meskipun regulasi ini tidak berlaku untuk perangkat yang sudah dimiliki konsumen dan perusahaan masih dapat mengimpor serta menjual model yang telah disetujui sebelumnya, pemerintah AS menyatakan bahwa robot buatan luar negeri di masa depan dianggap sebagai risiko keamanan nasional.

Definisi “perangkat robot canggih” yang dilarang sangat luas. Peraturan ini mencakup hampir semua robot baru yang dikendalikan perangkat lunak, bergerak di atas tanah, memiliki berat lebih dari 4,4 pon (termasuk stasiun pengisian daya), mampu memahami lingkungan sekitarnya, dan memiliki konektivitas nirkabel. Berdasarkan definisi ini, FCC melarang impor robot pemotong rumput, robot pengantar barang di trotoar, dan robot yang memindahkan paket di gudang Amazon.

Pemerintah AS secara spesifik menyoroti robot vacuum dalam dokumen National Security Determination yang menjadi dasar larangan tersebut. Dokumen itu mengutip laporan tentang kerentanan keamanan yang memungkinkan seseorang mengakses 7.000 unit robot vacuum DJI di seluruh dunia. Namun, FCC tidak secara spesifik menargetkan perusahaan dengan praktik keamanan buruk, melainkan hampir seluruh perusahaan robot vacuum — karena hampir semuanya diproduksi di luar AS.

Bahkan Roomba, merek robot vacuum buatan AS, bangkrut dan robotnya diproduksi oleh perusahaan China. Merek Roomba kini dimiliki oleh perusahaan China, Picea, yang merupakan mantan mitra kontrak manufakturnya. Demikian pula dengan merek-merek top lainnya seperti Roborock, Ecovacs, Dreame, Xiaomi, dan Narwal — semuanya adalah entitas China. Bahkan Dyson kini beralih ke produsen China.

“Ada sangat sedikit merek non-China saat ini dan pangsa mereka sangat kecil sehingga sulit dilacak,” ujar analis IDC Jitesh Ubrani kepada The Verge. Bahkan Matic, robot vacuum yang dirakit di California dan menjadi pilihan utama, mungkin harus mengajukan pengecualian untuk model baru karena belum memenuhi syarat 65 persen komponen berasal dari AS.

Perusahaan AS sekalipun harus bersumpah bahwa robot mereka dibuat di AS untuk mendapatkan pengecualian dari pemerintah. Sementara itu, perusahaan asing harus berkomitmen untuk berinvestasi dalam manufaktur di AS. Namun, kekhawatiran muncul bahwa ada perusahaan yang mungkin berbohong, seperti yang pernah dilakukan perusahaan front DJI.

Robot vacuum DJI Romo menjadi contoh nyata risiko keamanan. Perangkat itu memungkinkan seseorang dari belahan dunia lain memetakan rumah secara detail. Namun, FCC tidak mengajukan pertanyaan tentang keamanan kepada perusahaan mana pun untuk mendapatkan pengecualian. FCC hanya ingin tahu di mana robot dirancang, dibuat, dirakit, diuji, dan dipengaruhi, serta mendapatkan komitmen spesifik untuk memulai manufaktur di AS.

Meskipun demikian, FCC diperkirakan akan memberikan pengecualian kepada banyak pemasok non-China, berdasarkan laporan dari empat sumber anonim kepada Reuters. Pemerintah juga telah mengecualikan mobil dan kereta otonom, pesawat nirawak, kendaraan bawah air, robot bedah, kursi roda, dan lengan robot tetap untuk keperluan industri dan medis. Namun, masa depan sebagian besar jenis robot lainnya di AS kini tidak pasti.

Penting untuk dicatat bahwa FCC tidak akan menyita robot yang sudah dimiliki konsumen, sama seperti kebijakan untuk router dan drone. Namun, jika perangkat ini benar-benar dianggap sebagai risiko keamanan nasional, kebijakan yang tidak melakukan apa pun terhadap perangkat yang sudah dibeli dianggap tidak konsisten.

Kebijakan ini memiliki implikasi langsung bagi konsumen dan industri. Harga robot vacuum dan perangkat rumah pintar lainnya diperkirakan akan meningkat karena tekanan untuk memindahkan produksi ke AS. Konsumen di Indonesia dan negara lain mungkin akan merasakan dampak tidak langsung berupa berkurangnya pilihan produk dan potensi kenaikan harga global.

Langkah FCC ini juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan inovasi robotika global. Dengan AS menutup pintu bagi produk asing, negara-negara lain seperti China dan Korea Selatan kemungkinan akan mempercepat pengembangan dan produksi mandiri. Sementara itu, perusahaan robotik di AS harus beradaptasi dengan cepat atau kehilangan akses ke pasar global.

Jennifer Pattison Tuohy berkontribusi dalam pelaporan artikel ini.

[CONTENT_END]