JBNews.id — Kelangkaan resin polyphenylene ether (PPE) kemurnian tinggi akibat penutupan pabrik di Arab Saudi memicu lonjakan harga papan sirkuit cetak (PCB) global hingga 40%, mengancam produksi smartphone, laptop, hingga server AI.
Resin PPE merupakan bahan baku yang sangat krusial dalam pembuatan PCB. Material ini berfungsi menahan panas, menjaga stabilitas sinyal, dan memastikan keandalan perangkat. Tanpa resin ini, perangkat modern seperti smartphone, laptop, server Kecerdasan Buatan (AI), pemancar 5G, hingga mobil listrik tidak akan bisa beroperasi maksimal.

Krisis ini bermula ketika kompleks industri dan petrokimia raksasa di Jubail, Arab Saudi, terpaksa berhenti beroperasi awal tahun 2026. Gangguan di Jubail tidak murni dimulai dari serangan rudal pada 6-7 April 2026. Sejak akhir Maret, sejumlah pabrik sudah mulai ditutup karena pengiriman kargo melalui Selat Hormuz dinilai terlalu berbahaya akibat memanasnya konflik. Serangan rudal kemudian memperparah sistem logistik yang sudah lumpuh tersebut.
CEO Dow, Jim Fitterling, yang memiliki perusahaan patungan dengan Saudi Aramco di kompleks tersebut, memperkirakan bahwa butuh waktu setidaknya “275 hari lebih” sebelum sistem logistik dan rantai pasok bisa kembali normal. Bagi industri teknologi, waktu pemulihan tersebut sangatlah memberatkan.
Harga PCB Melonjak 40 Persen
Mengganti resin dengan bahan alternatif lain bukanlah perkara mudah. Pabrikan harus merancang ulang papan sirkuit, menguji kembali performanya, dan mengurus ulang sertifikasi keamanannya. Akibatnya, harga komponen pun melonjak tajam. Berdasarkan catatan Goldman Sachs, harga PCB secara global telah melonjak hingga 40% antara Maret dan April 2026. TTM, produsen PCB asal AS, menaikkan harga jualnya di kisaran 5% hingga 25%.
Waktu tunggu (lead time) untuk input resin epoksi melonjak drastis dari yang biasanya hanya 3 minggu, kini menjadi 15 minggu. Pakar rantai pasok dari Wichita State University, Profesor Usha Haley, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa kompleks Jubail memasok sekitar 70% kebutuhan resin PPE kemurnian tinggi dunia. “Produksi kini terhenti total, dan tidak ada pemasok alternatif yang mampu menutupi kekosongan tersebut,” jelasnya.
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa Amerika Serikat pun tidak memiliki kapasitas pabrik untuk menggantikan pasokan resin dari Jubail. Sridhar Tayur, Profesor Manajemen Operasi di Carnegie Mellon University, menegaskan bahwa pilihan produsen elektronik saat ini sangat terbatas. “Jika barangnya memang tidak ada, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pabrikan dalam menghadapi kelangkaan ini,” pungkasnya.
Dampak pada Harga Perangkat Konsumen
Mark Vena, CEO SmartTech Research, memprediksi bahwa konsumen mungkin tidak akan pernah mendengar istilah “kelangkaan resin PPE” saat berbelanja, tetapi mereka pasti akan merasakan dampak harganya. “Papan sirkuit adalah sistem saraf dari setiap perangkat modern. Saat biaya produksinya melonjak, dampaknya akan langsung menjalar ke ponsel, laptop, konsol game, router, dan server AI,” kata Vena.
Tekanan harga ini diperkirakan akan menghantam perangkat dengan margin keuntungan tipis terlebih dahulu, seperti PC, aksesori, router, ponsel Android kelas menengah, hingga smartphone layar lipat (foldable) yang memiliki desain mesin sangat kompleks. Bahkan Apple, yang memiliki modal raksasa dan manajemen rantai pasok tingkat dewa, tidak bisa sepenuhnya menghindar. “Apple bisa mengalihkan beban tersebut, tetapi mereka tidak bisa menyulap kemacetan industri petrokimia agar tiba-tiba menghilang,” tambah Vena.
Kabar baiknya untuk jangka pendek, harga perangkat flagship kemungkinan besar masih akan stabil. CEO Goji Mobile, Thad Hwang, memprediksi konsumen tidak akan melihat kenaikan harga eceran untuk perangkat seperti iPhone 17 atau Samsung Galaxy S26 dalam beberapa bulan ke depan. Namun, ia mewanti-wanti bahwa efek panjang dari ketidakstabilan ini baru akan mulai terasa pada musim gugur mendatang.
Baca Juga:
Krisis resin PPE ini menjadi pengingat betapa rapuhnya rantai pasok teknologi global yang sangat bergantung pada satu sumber bahan baku. Dengan tidak adanya pemasok alternatif yang mampu menutupi kekosongan pasokan dari Jubail, industri teknologi global harus bersiap menghadapi tekanan biaya produksi yang berkepanjangan. Konsumen pun kemungkinan besar akan merasakan dampaknya dalam bentuk kenaikan harga perangkat elektronik pada akhir tahun 2026.




