Kompetisi Zero Day: Berburu Hacker Baik untuk Kedaulatan Digital RI

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi keamanan cyber dengan latar belakang jaringan digital dan ikon kunci
  • Indonesia mengalami 5,5 miliar insiden serangan siber pada 2025, naik 714 persen
  • Digital Solusi Grup (DSG) menggelar kompetisi Zero Day untuk menjaring hacker etis
  • Tiga arena: Scholar Battle (pemula), Open Arena (menengah), Zero Day Finals (advanced)
  • Final digelar 28 Juni 2026 di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, Malang
  • Kolaborasi dengan sekolah dan kampus untuk menciptakan talenta siap industri
  • Dukungan penuh dari akademisi sebagai wadah pengasah kemampuan cyber security

JBNews.id — Indonesia mengalami 5,5 miliar insiden serangan siber dan anomali trafik sepanjang 2025, melonjak 714 persen dibandingkan rata-rata tahunan 2020–2024. Digital Solusi Grup (DSG) merespons krisis talenta keamanan siber dengan menggelar ajang Zero Day, sebuah kompetisi peretasan etis untuk menjaring dan mencetak spesialis keamanan digital nasional.

Angka 5,5 miliar insiden tersebut menjadi alarm bagi ekosistem digital Indonesia. Lonjakan tujuh kali lipat ini menunjukkan urgensi pengembangan sumber daya manusia di bidang cyber security yang tidak bisa ditunda lagi. DSG mengambil inisiatif strategis dengan merancang Zero Day bukan sekadar perlombaan, melainkan sebagai wadah talent pool yang mempertemukan talenta digital berbakat dengan kebutuhan industri secara langsung. Para peserta yang lolos kurasi berpotensi dilibatkan dalam berbagai proyek strategis keamanan siber.

“Untuk mencetak talenta digital di bidang cyber security ini, tidak hanya peserta umum saja, kami juga berkolaborasi dengan sekolah dan kampus. Sinergi antara industri dan dunia pendidikan menjadi kunci dalam menciptakan talenta yang siap menghadapi tantangan nyata di masa depan,” jelas Dean Diyantha Putrandi, CEO dan Founder Digital Solusi Grup, dalam keterangan resmi yang diterima JBNews.id.

Kurasi Ketat dan Tiga Arena Kompetisi

Proses kurasi talenta di ajang Zero Day dilakukan secara ketat dan berlapis. DSG menyiapkan tantangan berbasis praktik nyata berupa Mini Games yang harus dipecahkan oleh peserta untuk membuktikan kemampuan teknis mereka. Peserta terbaik yang lolos dari fase ini akan beradu keahlian pada kompetisi utama yang digelar pada 28 Juni 2026 di Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) Universitas Brawijaya, Malang.

Kompetisi final Zero Day dibagi menjadi tiga arena utama. Pertama, Scholar Battle, kategori kelas pemula yang dikhususkan bagi pelajar dan mahasiswa. Kedua, Open Arena, kategori tingkat menengah yang terbuka untuk peserta umum. Ketiga, Zero Day Finals, kategori pertempuran tingkat lanjut (advanced) khusus bagi talenta dengan skill retas tingkat tinggi. Struktur ini memungkinkan partisipasi dari berbagai level keahlian, mulai dari pemula hingga profesional.

Langkah DSG ini mendapatkan dukungan penuh dari pihak akademisi. Dekan Filkom Universitas Brawijaya, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM, menegaskan bahwa kawah candradimuka bagi hacker muda dan putih ini sangat krusial di era transformasi digital. “Komunikasi dan transaksi digital membuka ruang baru yang juga menghadirkan tantangan dalam hal keamanan. Event seperti ini penting sebagai wadah terkontrol bagi talenta, mahasiswa, dan siswa untuk mengasah kemampuan di bidang cyber security. Kami menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah positif dalam menyiapkan sumber daya yang kompeten,” pungkas Tri Astoto.

Ilustrasi Keamanan Cyber

Kompetisi peretasan etis seperti Zero Day menjadi semakin relevan mengingat ketergantungan Indonesia pada infrastruktur digital yang terus meningkat. Data menunjukkan bahwa 90 persen jalur internet nasional masih bergantung pada Singapura, sebuah kerentanan struktural yang membutuhkan tenaga ahli keamanan siber dalam jumlah besar dan berkualitas. Inisiatif DSG ini sejalan dengan upaya membangun kedaulatan digital yang lebih mandiri.

Implikasi bagi Kedaulatan Digital Nasional

Ajang Zero Day memiliki implikasi strategis bagi masa depan keamanan siber Indonesia. Dengan kurasi ketat dan keterlibatan langsung industri, para peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman kompetisi tetapi juga akses ke proyek-proyek strategis. Model talent pool ini memecahkan masalah klasik kesenjangan antara pendidikan formal dan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Dean Diyantha Putrandi menekankan bahwa kolaborasi dengan sekolah dan kampus menjadi kunci keberhasilan program ini. Sinergi antara industri dan dunia pendidikan memastikan bahwa kurikulum dan tantangan yang diberikan relevan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Hal ini penting mengingat serangan siber terus berevolusi dan membutuhkan respons yang cepat dan adaptif.

Bagi pembaca, inisiatif ini membuka peluang karir baru di bidang keamanan siber. Talenta digital yang tertarik dapat mengikuti kompetisi serupa atau program pelatihan dari berbagai institusi. Selain itu, kesadaran akan pentingnya keamanan digital di tingkat individu juga perlu ditingkatkan seiring dengan meningkatnya ancaman siber. Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan teknologi dan kompetisi digital, Anda dapat membaca artikel tentang Kacamata Pintar Murah atau Biaya Developer Google.

Dengan 5,5 miliar insiden sebagai latar belakang, kompetisi Zero Day menjadi langkah konkret dalam membangun ketahanan siber nasional. Ajang ini tidak hanya mencari hacker baik, tetapi juga membangun fondasi bagi ekosistem keamanan digital yang lebih kuat dan mandiri di Indonesia.