JBNews.id — Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tim peneliti dari University of Minnesota berhasil membangun sel sintetis yang dapat tumbuh, bereproduksi, dan membelah diri layaknya sel alami, menggunakan komponen kimia non-hidup. Terobosan ini disebut sebagai tonggak baru dalam bioteknologi sintetis.
Penelitian yang dipimpin oleh ahli biologi sintetis Kate Adamala ini menghasilkan sel buatan yang diberi nama “SpudCell”. Dalam pernyataan resmi, tim menyebut SpudCell sebagai “sel sintetis pertama dengan siklus sel lengkap” yang mampu “tumbuh, mereplikasi genomnya, membelah, serta menjalani seleksi dan kompetisi lintas beberapa generasi.”
Pencapaian ini dipandang sebagai langkah besar yang dapat membuka era baru bioteknologi, di mana organisme sintetis dapat diprogram untuk menyelesaikan fungsi spesifik. Pendekatan futuristik ini berpotensi menjawab berbagai masalah manusia, mulai dari melawan kanker hingga menangkap karbon di atmosfer.
“Kami telah mereplikasi dalam kimia apa yang sebelumnya hanya mungkin dilakukan dalam biologi: seluruh rangkaian perilaku sel,” ujar Adamala dalam pernyataannya. “Ini membuktikan bahwa fungsi paling fundamental kehidupan, seperti pertumbuhan dan reproduksi, tidak memerlukan percikan magis yang misterius.”
Meski demikian, penelitian ini masih dalam tahap awal. SpudCell masih primitif dan paling mirip dengan bakteri. Namun, karena dibangun dari awal, tim peneliti mengklaim sel ini memiliki keunggulan dibanding sel alami. “Saya tahu daftar lengkap bahan penyusun sel ini. Saya tahu persis bahan kimia dan molekul apa yang ada di dalamnya,” kata Adamala kepada CNN. “Ini sepenuhnya terdefinisi, yang berarti kami bisa merekayasanya.”
Ia menambahkan, “Kami berharap ini benar-benar memulai era bioekonomi sejati, teknologi yang memungkinkan orang merekayasa biologi.”
SpudCell: Komposisi dan Keterbatasan
Menurut makalah pracetak yang akan diajukan untuk publikasi pekan ini, SpudCell terdiri dari 150 hingga 200 molekul. Meskipun dapat makan, tumbuh, dan bereproduksi selama sekitar lima generasi, sel ini jauh lebih sederhana dibandingkan sel alami yang bisa mengandung miliaran molekul.
Adamala menyebut konstruksi ini sebagai “organisme yang sangat lemah yang saat ini tidak melakukan apa-apa selain makan dan sesekali membuat sel anak.” Untuk bereproduksi sekali setiap 12 jam, para ilmuwan harus memberinya makan dari luar sambil menjaga suhu pada 86 derajat Fahrenheit. Ini jauh lebih lambat dibandingkan bakteri alami seperti E. coli yang membelah setiap 30 menit. SpudCell juga tidak dapat memproduksi protein sendiri, sehingga ilmuwan harus memberinya makan secara teratur.
“Ini baru permulaan,” kata Adamala kepada CNN. “Ini adalah sasis yang kami harap bisa dikembangkan lebih lanjut, dan itu signifikan karena sekarang kami benar-benar memiliki gambaran yang masuk akal tentang bagaimana mengembangkannya.”
Baca Juga:
Perdebatan Soal Definisi Kehidupan
Apakah SpudCell benar-benar dapat disebut sebagai “kehidupan” masih menjadi perdebatan sengit. Para ahli berpendapat bahwa sel ini tidak dapat berevolusi sendiri tanpa perawatan intensif dari pembuatnya.
“Saya akan mengatakan Kate telah membangun sel,” ujar Drew Endy, profesor madya teknik bio di Stanford University yang mendirikan lembaga kepentingan publik bersama Adamala, kepada CNN. “Saya tidak berpikir dia telah menciptakan kehidupan.” Namun, ia menambahkan, “Apakah ini menjanjikan masa depan di mana lebih banyak orang akan mampu membangun sel? Ya.”
Pandangan lain datang dari John Glass, peneliti sel sintetis di J. Craig Venter Institute yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Kepada New York Times, ia mengatakan, “Tim Kate Adamala merancang dan membangun sel sintetis non-hidup yang jauh lebih mendekati ‘hidup’ dibandingkan apa pun yang pernah dihasilkan oleh bidang sel sintetis bottom-up.”
Terobosan ini, meskipun masih jauh dari sempurna, membuka jalan bagi pemahaman yang lebih dalam tentang esensi kehidupan dan potensi penerapan teknologi sel sintetis di masa depan. Inovasi teknologi semacam ini menjadi contoh bagaimana sains terus mendorong batas-batas kemungkinan.
Bagi pembaca, implikasinya jelas: kita mungkin berada di ambang era di mana organisme buatan dapat dirancang untuk tugas-tugas spesifik, dari produksi obat-obatan hingga pembersihan lingkungan. Namun, perjalanan menuju aplikasi praktis masih panjang dan penuh tantangan etis serta teknis. Game Indonesia mungkin sukses mengangkat budaya lokal, sementara sains sintetis mulai merangkai ulang fondasi kehidupan itu sendiri.




