JBNews.id — Upaya perpanjangan sementara Undang-Undang Pengawasan Intelijen Asing (FISA) Section 702 gagal di Kongres Amerika Serikat. House of Representatives atau DPR AS menolak perpanjangan tiga minggu kewenangan penyadapan tanpa surat perintah (warrantless wiretapping) tersebut dengan suara 218-198.
Kegagalan ini terjadi setelah perpanjangan jangka pendek sebelumnya. Program pengawasan yang kontroversial ini kini diprediksi akan mengalami masa lapse atau kekosongan setidaknya selama satu minggu. Skenario ini telah lama diperingatkan oleh para pendukung FISA, meskipun faktanya AS tidak serta-merta kehilangan kemampuan pengawasannya secara total.
Para pendukung perpanjangan bersih (clean extension) berargumen bahwa masa lapse akan menghambat upaya badan intelijen dalam menggagalkan potensi serangan teroris. Mereka mengklaim jaringan pengawasan akan “going dark” atau mati total. Senator Tom Cotton (R-AR) menekankan pentingnya memperbarui Section 702 menjelang Piala Dunia. Ketua DPR Mike Johnson (R-LA) bahkan menyatakan bahwa masa lapse singkat sekalipun akan menjadi bencana.
“Demokrat di Senat sedang bermain politik dengan nyawa warga Amerika saat ini,” kata Johnson kepada wartawan pada Rabu. “Ini situasi yang sangat berbahaya.”
Pada Maret lalu, pengadilan FISA (FISA court) telah mensertifikasi ulang pengawasan di bawah Section 702 hingga tahun 2027. Brennan Center for Justice mencatat bahwa masa lapse tidak akan mengizinkan perusahaan telekomunikasi untuk mengabaikan permintaan penyerahan data komunikasi kepada NSA dan badan intelijen lainnya. Pada tahun 2008, setelah Yahoo gagal mematuhi permintaan Section 702 selama masa lapse, pengadilan FISA memutuskan bahwa arahan yang dikeluarkan berdasarkan Section 702 tetap berlaku selama sertifikasi masih berlaku — bahkan jika terjadi masa lapse.
“Frasa ‘going dark’ sangat menyesatkan,” kata Andrea Sawka Fiegl, direktur kebijakan senior untuk media dan teknologi di Common Cause, dalam panggilan pers pada Selasa. Fiegl menambahkan bahwa perusahaan tidak punya pilihan untuk berpartisipasi dalam pengawasan berdasarkan Section 702. Jika mereka tidak mematuhi setelah menerima arahan, mereka akan menghadapi denda mulai dari 250.000 dolar AS per hari.
“Pembingkaian ‘going dark’ pada dasarnya adalah taktik tekanan yang dirancang untuk melucuti leverage Kongres dalam merundingkan reformasi dengan menciptakan dikotomi palsu ini,” kata Fiegl. “Ada banyak waktu bagi Kongres untuk mempertimbangkan dan mengesahkan reformasi.”
Di antara reformasi tersebut adalah persyaratan surat perintah untuk permintaan (queries) yang melibatkan warga AS, termasuk apa yang disebut “backdoor searches”. Dalam praktik ini, badan intelijen mengidentifikasi target asing yang memiliki hubungan dengan warga AS, lalu mencari komunikasi warga AS tersebut. Dengan demikian, mereka mendapatkan akses ke target warga AS yang diinginkan. Para reformis juga ingin melarang badan intelijen membeli data warga AS dari broker swasta untuk menghindari persyaratan surat perintah.
“Setiap hari Section 702 berlaku tanpa reformasi adalah hari di mana hak-hak warga Amerika terancam,” kata Senator Ron Wyden (D-OR) dalam sebuah pernyataan pada Rabu malam, setelah Senator Republik memblokir permintaannya untuk perpanjangan lima minggu Section 702 dengan persyaratan transparansi baru. “Jika akan ada perpanjangan wewenang ini, harus ada beberapa pagar pembatas atau setidaknya transparansi yang memungkinkan Kongres dan rakyat Amerika memahami pelanggaran yang telah terjadi dan perlunya reformasi.”
Meskipun Presiden Donald Trump dan pimpinan Partai Republik di kedua kamar telah menyerukan reauthorisasi bersih Section 702, ada keinginan bipartisan untuk reformasi. Segelintir anggota Partai Republik yang keras kepala (holdouts) menghalangi reauthorisasi bersih. Sebagian besar Demokrat — bahkan beberapa yang sebelumnya mendukung reauthorisasi — menolak perpanjangan bersih karena penunjukan Bill Pulte sebagai pelaksana jabatan direktur intelijen nasional oleh Trump.
Implikasi dan Dampak Potensial
Kegagalan Kongres ini menciptakan ketidakpastian hukum bagi badan intelijen dan perusahaan telekomunikasi. Namun, keputusan pengadilan FISA tahun 2008 memberikan semacam jaring pengaman. Arahan yang sudah dikeluarkan tetap harus dipatuhi, dan perusahaan yang menolak tetap menghadapi denda harian yang sangat besar.
Pertarungan politik ini menyoroti perpecahan mendasar di Washington. Di satu sisi, ada kekhawatiran keamanan nasional yang didengungkan oleh pendukung FISA. Di sisi lain, ada tuntutan kuat untuk melindungi privasi warga negara dari penyalahgunaan wewenang pengawasan.
Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini relevan karena menunjukkan bagaimana keseimbangan antara keamanan dan privasi terus diuji di negara demokrasi terbesar di dunia. Keputusan Kongres AS akan menjadi preseden bagi kebijakan pengawasan global, termasuk yang mungkin diadopsi oleh negara lain.
Dengan waktu yang terbatas sebelum masa lapse benar-benar terjadi, tekanan kini kembali ke Kongres untuk segera menemukan solusi. Apakah akan ada perpanjangan bersih dengan reformasi minimal, atau justru reformasi substansial yang mengubah wajah pengawasan intelijen AS? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan privasi dan keamanan di era digital.
Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan politik dan kebijakan dapat Anda simak melalui Sample Page kami.
Baca Juga:




