JBNews.id — Kewajiban registrasi SIM card prabayar menggunakan biometrik wajah yang mulai berlaku 1 Juli 2026 membawa risiko keamanan yang jauh lebih serius dibandingkan kebocoran password biasa. Chairman CISSReC, Pratama Persadha, menegaskan bahwa data biometrik bersifat permanen dan tidak dapat diganti sepanjang hidup seseorang.
“Password bisa diganti. Nomor telepon bisa diganti. Alamat email juga bisa dibuat baru. Tetapi wajah, sidik jari, dan iris mata tidak bisa diganti sepanjang hidup seseorang,” kata Pratama kepada detikINET.
Registrasi SIM card menggunakan data biometrik merupakan pengembangan dari pendaftaran nomor HP baru yang sebelumnya divalidasi menggunakan data nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor kartu keluarga (KK). Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi penyalahgunaan identitas dan penipuan digital yang marak terjadi.
Pratama menyoroti jika terjadi kebocoran data biometrik, konsekuensi jangka panjangnya jauh lebih besar dibandingkan kebocoran password atau identitas digital lainnya. Pelaku kejahatan siber dapat menggunakan data wajah untuk berbagai modus penipuan yang sulit dideteksi.
Untuk meminimalkan risiko, operator seluler seharusnya tidak menyimpan foto wajah pelanggan dalam bentuk asli. Pendekatan yang lebih aman adalah mengubah hasil pemindaian menjadi template biometrik berupa representasi matematis yang hanya digunakan untuk proses pencocokan identitas.
“Apabila basis data mengalami kebocoran, pelaku tidak langsung memperoleh foto wajah asli pengguna,” ucap Pratama.
Penerapan prinsip data minimization juga menjadi krusial, yakni hanya mengumpulkan data yang benar-benar diperlukan dan segera menghapus data yang tidak lagi dibutuhkan setelah proses autentikasi selesai. Seluruh proses pengiriman data wajah harus menggunakan enkripsi modern agar tidak mudah disadap selama proses transmisi.
Pratama menambahkan bahwa pemerintah dan operator seluler perlu memisahkan penyimpanan data kependudukan, data pelanggan, dan data biometrik. Dengan demikian, satu insiden kebocoran tidak berdampak terhadap seluruh informasi pengguna.
Baca Juga:
Menurutnya, registrasi SIM berbasis biometrik memang dapat menjadi solusi efektif dalam mengurangi penyalahgunaan identitas dan penipuan digital. Namun perlindungan terhadap data wajah harus menjadi prioritas utama karena biometrik merupakan aset digital permanen yang akan melekat pada setiap individu sepanjang hidupnya.
“Keamanan sistem tidak hanya diukur dari kemampuan mengenali wajah, tetapi juga dari kemampuan melindungi data wajah tersebut dari penyalahgunaan di masa depan,” pungkas Pratama.
Praktik keamanan siber modern seperti yang diterapkan oleh XLSmart Ajak Pengusaha dalam memanfaatkan AI juga relevan untuk diadaptasi dalam perlindungan data biometrik. Sementara itu, pengguna perangkat mobile perlu waspada karena Tablet Mini Dilirik untuk work from anywhere semakin meningkatkan paparan data pribadi.
Bagi masyarakat yang tengah mengurus bantuan sosial, penting juga memahami Kriteria Bansos Ditolak agar tidak terkendala saat verifikasi data. Semua ini menunjukkan bahwa perlindungan data pribadi, terutama biometrik, menjadi isu lintas sektor yang membutuhkan perhatian serius.




