Data FBI: 5.000 Kamera Flock di Atlanta Gagal Tekan Angka Kejahatan

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
โฑ๏ธ3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi kamera pengawas Flock di Atlanta dengan pencuri bersenjata di latar belakang
  • Flock Safety memasang sekitar 100.000 ALPR di AS sejak 2017, dengan 5.000 kamera di Atlanta
  • Data FBI menunjukkan clearance rate pembunuhan turun dari 53,4% (2021) ke 48% (2025)
  • Kasus pemerkosaan stagnan di 37,7%, sempat turun ke 21,2% di titik terendah
  • Perbaikan hanya 0,2-0,3% untuk penganiayaan berat dan pencurian kendaraan
  • APD hanya menyelesaikan 1 dari 10 kasus pencurian mobil pada 2025
  • Len Phillips dari DeFlock Atlanta menyebut transaksi keamanan vs privasi "sepihak"

JBNews.id โ€” Sebanyak 5.000 kamera pemantau plat nomor otomatis (ALPR) milik Flock Safety yang tersebar di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, terbukti tidak berdampak signifikan terhadap kemampuan polisi menyelesaikan kasus kejahatan. Data Federal Bureau of Investigation (FBI) menunjukkan tingkat penyelesaian kasus (clearance rate) untuk sejumlah kejahatan, termasuk pembunuhan, justru menurun seiring menjamurnya kamera tersebut antara 2021 hingga 2025.

Temuan ini pertama kali dilaporkan oleh Atlanta Community Press Collective (ACPC) dan menjadi bantahan telak atas klaim utama Flock Safety bahwa teknologi ALPR diperlukan untuk membantu aparat menjaga keamanan publik. Sejak perusahaan ini beroperasi pada 2017, American Civil Liberties Union (ACLU) memperkirakan Flock telah memasang sekitar 100.000 alat pembaca plat nomor otomatis di seluruh Amerika Serikat.

Jaringan pengawasan ini memiliki sejumlah kelemahan serius, mulai dari rawan disalahgunakan oleh oknum polisi, dijalankan dengan tenaga kerja yang dieksploitasi, hingga hampir mustahil untuk dihindari setelah seseorang ditetapkan sebagai target. Meski demikian, para pejabat kepolisian bersikukuh bahwa teknologi ini sepadan dengan pengorbanan privasi karena dianggap membantu menangkap para pelaku kejahatan.

Kenyataannya jauh dari harapan tersebut. Atlanta menjadi kota dengan pertumbuhan pemasangan ALPR terbesar di Amerika Serikat, dengan lebih dari 5.000 kamera Flock yang kini menyelimuti kota tersebut. Namun, data FBI justru menunjukkan hasil yang kontras dengan janji yang ditawarkan.

Ilustrasi kamera Flock di Atlanta dengan pencuri di latar belakang, menggambarkan kegagalan teknologi pengawasan dalam mencegah kejahatan

Angka Penyelesaian Kasus yang Menurun

Menurut laporan ACPC yang mengutip data FBI, tingkat penyelesaian kasus oleh Atlanta Police Department (APD) untuk kejahatan seperti pembunuhan, perampokan, pencurian ringan, dan pengutilan justru mengalami penurunan antara 2021 dan 2025 โ€” periode ketika pembangunan jaringan ALPR kota mencapai puncaknya.

Untuk kasus pembunuhan, angkanya terbilang memprihatinkan. FBI melaporkan penutupan kasus hanya sebesar 48 persen pada 2025, turun dari 53,4 persen pada 2021. Sementara itu, tingkat penyelesaian kasus pemerkosaan stagnan dari tahun ke tahun, bertahan di angka 37,7 persen sepanjang 2021 hingga 2025, bahkan sempat anjlok hingga 21,2 persen pada titik terendahnya dalam rentang empat tahun tersebut.

Meskipun APD sebenarnya menunjukkan perbaikan pada beberapa kategori kejahatan seiring bermunculannya kamera Flock di seluruh kota, perubahan dari 2021 ke 2025 tersebut hanya sebatas kesalahan pembulatan. Sebagai contoh, penutupan kasus untuk kejahatan seperti penganiayaan berat dan pencurian kendaraan bermotor hanya naik tipis, masing-masing 0,2 dan 0,3 persen.

Salah satu temuan paling ironis adalah tingkat penyelesaian kasus pencurian kendaraan bermotor. Teknologi yang dirancang khusus untuk melacak kendaraan seharusnya menjadi kemenangan mudah bagi APD. Namun pada 2025, polisi Atlanta hanya mampu menyelesaikan satu dari sepuluh kasus pencurian mobil, padahal ribuan kamera Flock ALPR tersedia di kota tersebut.

Kritik dari Komunitas Anti-ALPR

Len Phillips, ketua kelompok komunitas anti-ALPR DeFlock Atlanta, menyatakan kepada ACPC bahwa publik telah diminta menerima ekspansi pengawasan yang signifikan berdasarkan janji bahwa hal itu akan meningkatkan keamanan publik secara drastis. Pada kenyataannya, menurut Phillips, pertukaran antara keamanan dan kebebasan sipil tersebut hanyalah transaksi sepihak.

Kasus di Atlanta ini menjadi contoh nyata bagaimana teknologi pengawasan yang digadang-gadang sebagai solusi kejahatan justru gagal memenuhi ekspektasi. Data FBI yang dirilis ini juga memperkuat kekhawatiran para kritikus yang selama ini menentang pemasangan ALPR secara masif di berbagai kota di Amerika Serikat.

Kegagalan Flock di Atlanta bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Sebelumnya, perusahaan ini juga menghadapi tekanan publik yang memaksa mereka menghentikan fitur pengawasan audio yang dinilai mengganggu privasi. Selain itu, terdapat pula kasus di mana kesalahan kamera Flock menyebabkan warga dikepung polisi bersenjata.

Data FBI dari Atlanta ini memberikan implikasi penting bagi kota-kota lain yang tengah mempertimbangkan investasi besar-besaran pada teknologi pengawasan serupa. Janji peningkatan keamanan yang digunakan untuk membenarkan pengorbanan privasi publik ternyata tidak selaras dengan hasil nyata di lapangan.

Bagi masyarakat, temuan ini menegaskan bahwa klaim keamanan dari vendor teknologi pengawasan perlu diuji dengan data independen sebelum keputusan pemasangan dalam skala besar diambil. Tanpa bukti empiris yang kuat, ekspansi pengawasan hanya akan menjadi beban bagi kebebasan sipil tanpa memberikan manfaat keamanan yang dijanjikan.