Bos Kirim Chat AI ke Karyawan, Karyawan Balas Pakai AI Juga

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi pesawat kertas yang melambangkan komunikasi AI di kantor
  • Karyawan mengaku pasrah karena harus menggunakan AI untuk menafsirkan dan membalas pesan bos yang juga ditulis AI
  • Fenomena ini disebut 'social offloading' oleh eksekutif Skillsoft Leena Rinne
  • AI di tempat kerja menimbulkan birokrasi 'workslop' yang memperlambat produksi
  • Pengguna Reddit mengeluhkan rekan kerja yang asal copy-paste hasil AI tanpa diedit
  • Dua rekan kerja saling menyalahkan karena sama-sama percaya pada hasil coding AI
  • Para ahli memperingatkan risiko ketergantungan berlebihan pada AI untuk komunikasi interpersonal

JBNews.id — Seorang karyawan mengaku pasrah karena harus menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menafsirkan dan membalas pesan dari atasannya, yang ia yakini juga ditulis menggunakan AI. Fenomena ini menggambarkan dinamika kerja baru di mana komunikasi antar manusia di kantor sepenuhnya dijembatani oleh mesin.

Pengakuan tersebut muncul dalam laporan Fortune baru-baru ini yang membahas bagaimana AI mengubah dinamika tempat kerja. Karyawan itu, yang tidak disebutkan namanya, menyampaikan keluhannya kepada Leena Rinne, seorang eksekutif di perusahaan edtech Skillsoft. “Saya benar-benar berpikir [bos saya] AI sedang berbicara dengan AI saya. Itulah percakapan yang sebenarnya terjadi saat ini,” kata karyawan tersebut kepada Rinne, seperti dikutip Fortune. “Saya tidak bisa memecahkan kode cara bekerja dengan [bos saya], karena hanya AI-nya dan AI saya yang saling berbalas pesan.”

Fenomena ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor. Para bos disebut sangat terpesona oleh teknologi ini dan memaksa bawahan untuk menggunakannya, sementara mengabaikan keluhan karyawan. Di perusahaan teknologi, dorongan untuk menggunakan AI telah menyebabkan banjir kode program yang penuh kesalahan, sehingga memicu krisis identitas di kalangan insinyur perangkat lunak yang kini hanya bertugas meninjau hasil kerja AI yang bermasalah.

Rinne menyebut fenomena ini sebagai “social offloading,” sebuah istilah yang ia gunakan untuk menggambarkan kebiasaan mengalihdayakan keterampilan interpersonal kita ke AI. Ini merupakan evolusi dari “cognitive offloading,” istilah yang selama ini digunakan peneliti untuk menggambarkan kebiasaan mengalihdayakan proses berpikir ke teknologi. “Jika saya selalu bertanya pada AI bagaimana cara merespons bos saya, saya tidak benar-benar belajar bagaimana berinteraksi dengan bos saya,” ujar Rinne. “Saya tidak benar-benar belajar bagaimana membangun hubungan dengan bos saya.”

Meskipun Rinne, yang perusahaannya menjual alat AI, percaya bahwa solusinya adalah mengajarkan cara menggunakan teknologi dengan lebih baik, masalahnya tidak sesederhana itu. Sebagian dari persoalan ini terletak pada desain alat AI yang membuat ketagihan. Sebuah penelitian juga memperingatkan bahwa AI menciptakan birokrasi “workslop,” di mana karyawan dengan cepat membuat dan mengirimkan hasil kerja AI yang buruk kepada rekan kerja, menciptakan ilusi peningkatan produktivitas, padahal pekerjaan itu perlu diperbaiki dan justru memperlambat produksi.

Dampak dari fenomena ini juga dirasakan langsung oleh para pekerja. Seorang pengguna Reddit menceritakan pengalaman pahitnya dengan rekan kerja yang menggunakan Copilot, alat produktivitas AI milik Microsoft, untuk membuat konten. “Mereka hanya menyalin-tempelnya ke dokumen Word, lengkap dengan format Copilot. Isinya sama sekali tidak sesuai dengan yang kami butuhkan, jadi saya harus membuang waktu untuk meninjau hasil AI mereka dan memberi mereka umpan balik seolah-olah mereka yang menulisnya,” tulis pengguna tersebut. Kasus lain bahkan melibatkan dua rekan kerja yang saling menyalahkan selama dua hari atas masalah kode, hanya untuk mengetahui bahwa keduanya yakin benar karena menggunakan alat coding milik Anthropic. “Mereka menghabiskan seluruh waktu berputar-putar dengan Claude!!” keluh mereka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan AI di tempat kerja tidak selalu berjalan mulus. Alih-alih meningkatkan efisiensi, komunikasi yang dijembatani AI justru menimbulkan kebingungan dan beban kerja tambahan. Para ahli memperingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI untuk tugas-tugas interpersonal dapat mengikis kemampuan dasar manusia dalam membangun hubungan dan berkomunikasi secara efektif.

Bagi para pekerja, situasi ini menimbulkan dilema: menggunakan AI untuk mempermudah pekerjaan atau tetap mempertahankan interaksi manusiawi yang otentik. Sementara itu, para pemimpin perusahaan perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang dari kebijakan yang memaksa penggunaan AI, terutama jika hal itu justru menciptakan lingkaran setan komunikasi antar mesin yang tidak produktif.

Implikasinya jelas: adopsi AI di tempat kerja harus diimbangi dengan pemahaman yang mendalam tentang batasan teknologi ini. Tanpa pengelolaan yang tepat, AI berisiko menciptakan lingkungan kerja yang lebih birokratis, bukannya lebih efisien. Para pemimpin perusahaan perlu memastikan bahwa AI digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti interaksi manusia yang esensial.