3 Tokoh Genius di Balik Kebangkitan AI China, Saingan Silicon Valley

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø5 menit membaca
Bagikan:
Perbandingan aplikasi DeepSeek dan ChatGPT di layar smartphone, simbol persaingan AI China dan Amerika Serikat
  • Tiga pendiri AI China yang menantang Silicon Valley: Liang Wenfeng (DeepSeek), Tang Jie (Z.ai), dan Yang Zhilin (Moonshot AI)
  • DeepSeek meledak Januari 2025 dengan model R1, biaya pelatihan jauh lebih rendah dari ChatGPT, valuasi kini USD 50 miliar
  • Tang Jie, profesor Tsinghua, mendirikan Z.ai dengan model GLM-5 yang bersaing dengan Claude Opus, kekayaan USD 5 miliar
  • Yang Zhilin kembali dari AS untuk mendirikan Moonshot AI, meluncurkan Kimi K3 sebagai model open-weight terbesar dunia
  • Peluncuran Kimi K3 memicu aksi jual saham teknologi AS senilai ratusan miliar dolar
  • Ketiganya mendorong China menjadi pesaing terbesar AS di industri kecerdasan buatan global

JBNews.id — Industri kecerdasan buatan (AI) China tengah berada di puncak kebangkitan, ditandai dengan kemunculan tiga perusahaan rintisan yang berhasil menantang dominasi Silicon Valley. Mereka adalah pendiri DeepSeek, Z.ai, dan Moonshot AI, yang model AI-nya dinilai tangguh dan lebih terjangkau dibandingkan produk sejenis dari Amerika Serikat.

Momentum industri AI China semakin kuat dalam beberapa bulan terakhir. Moonshot AI merilis Kimi K3, model AI open weight terbesar di dunia, sementara Z.ai memperkenalkan GLM-5.2, sistem open source terdepan. Bersama DeepSeek, ketiganya memperkuat posisi China sebagai pesaing terbesar AS di ranah kecerdasan buatan.

Kemunculan para pendiri ini tidak hanya mengubah peta persaingan teknologi global, tetapi juga mengguncang pasar keuangan. Peluncuran model AI terbaru dari China sempat memicu aksi jual besar-besaran yang menghapus ratusan miliar dolar nilai saham teknologi utama AS, termasuk Google dan Nvidia.

Berikut tiga sosok genius di balik kebangkitan AI China, sebagaimana dikutip dari VNExpress:

Liang Wenfeng: Arsitek di Balik DeepSeek

Liang Wenfeng menjadi wajah ledakan AI China setelah model open source buatan DeepSeek menarik perhatian global. Performanya disebut setara dengan sistem-sistem terdepan Barat, namun dengan biaya pengembangan jauh lebih kecil.

Lahir di Zhanjiang, Liang mendirikan hedge fund High-Flyer bersama rekan kuliahnya. Keuntungan dari bisnis tersebut memungkinkan perusahaan mengumpulkan ribuan GPU canggih, yang memberi DeepSeek daya komputasi besar untuk mengembangkan model AI mutakhir tanpa bergantung pada modal ventura tradisional. Pada tahun 2023, DeepSeek resmi dipisahkan dari divisi AI High-Flyer.

DeepSeek meledak di panggung global pada Januari 2025 dengan peluncuran model penalaran R1. Model ini diklaim mampu menandingi ChatGPT milik OpenAI dalam beberapa benchmark, dengan biaya pelatihan yang jauh lebih rendah. Pendekatan open source yang digunakan pun menarik minat pengembang dan peneliti dari seluruh dunia.

Keberhasilan ini membawa Liang menjadi salah satu pengusaha teknologi paling berpengaruh di China. Majalah Time memasukkannya ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia tahun 2025, dengan menyebut kemunculannya sebagai momen ketika dominasi teknologi AS mulai dipertanyakan.

Pria berusia 41 tahun ini kini menjadi pendiri perusahaan AI terkaya. Estimasi kekayaannya mencapai USD 36 miliar setelah penggalangan dana DeepSeek pada bulan Juni yang menaikkan valuasi perusahaan menjadi USD 50 miliar. Menurut Bloomberg, ia menduduki peringkat di atas Presiden OpenAI Greg Brockman dan salah satu pendiri Anthropic Dario Amodei, sekaligus menjadi orang terkaya kedelapan China.

Meski terkenal, Liang tetap jarang tampil di publik. Dalam wawancara langka pada tahun 2024 dengan media China Anyong, ia mengatakan China harus berevolusi dari sekadar pengadopsi teknologi luar negeri menjadi pencipta inovasi.

Tang Jie: Profesor Tsinghua di Balik Z.ai

Tang Jie, profesor Universitas Tsinghua, menghabiskan hampir dua dekade membantu membentuk talenta AI China sekaligus mendirikan salah satu perusahaan AI terdepan negara tersebut. Ia ikut mendirikan Zhipu AI, yang kini dikenal sebagai Z.ai, pada tahun 2019 bersama dosen dan alumni dari Universitas Tsinghua.

Perusahaan ini kini menjadi salah satu pengembang AI terdepan di China. Model terbarunya, GLM-5, bersaing dengan Claude Opus milik Anthropic dalam benchmark pemrograman dan agen AI. Investor semakin memandang Z.ai sebagai salah satu perusahaan AI teratas di China.

Antusiasme investor mendorong kebangkitan pesat perusahaan. Z.ai baru-baru ini mengumumkan penjualan saham senilai USD 4 miliar di Hong Kong dan berencana mencatatkan saham di Shanghai. Lonjakan ini membawa Tang masuk jajaran miliarder, dengan Forbes memperkirakan kekayaannya mencapai USD 5 miliar.

Lahir pada 1977, Tang bergabung dengan Departemen Ilmu Komputer Universitas Tsinghua pada tahun 2006. Ia telah menerbitkan lebih dari 100 makalah penelitian dan menciptakan AMiner, platform pencarian akademis yang memetakan hubungan antar peneliti, konferensi, dan publikasi ilmiah.

Tang juga memimpin pengembangan Wu Dao, model AI bahasa alami berskala super besar pertama di China yang diperkenalkan pada tahun 2021. Di situs akademisnya, ia menyatakan dedikasinya untuk memajukan Kecerdasan Buatan Umum (AGI). Dalam memo internal kepada karyawan, Tang menegaskan AI mutakhir harus tetap dapat diakses luas, bukan dikendalikan sekelompok kecil perusahaan dan bukan untuk komersialisasi jangka pendek.

Pernyataan ini sejalan dengan tren keamanan AI global yang semakin menjadi perhatian. Isu serupa juga diangkat dalam pemberitaan tentang keamanan anak di platform digital, yang menunjukkan bahwa regulasi teknologi semakin menjadi sorotan publik.

Yang Zhilin: Bintang Baru dari Moonshot AI

Yang Zhilin muncul sebagai bintang baru di industri AI China setelah Moonshot AI meluncurkan Kimi K3, model AI open-weight terbesar dunia, pada bulan Juli. Menurut Business Insider, kemampuan pemrograman dan agen AI model ini mampu menyaingi sistem terdepan dari OpenAI dan Anthropic dengan biaya operasional jauh lebih rendah.

Pakar AI menyebut Kimi K3 sebagai model terbuka pertama yang berhasil mengungguli pesaing-pesaing proprietary dalam pengujian rekayasa web komprehensif. Model ini menjadi salah satu model open-source yang paling mendekati batas terdepan AI.

Yang meraih gelar sarjana di Universitas Tsinghua sebelum menyelesaikan gelar Ph.D. dalam ilmu komputer di Carnegie Mellon University. Selama masa studi doktoralnya, ia magang di Google Brain dan Meta, serta ikut menulis karya ilmiah bersama para ilmuwan AI ternama.

Meski Apple sempat dikabarkan ingin merekrutnya, Yang memilih kembali ke China pada tahun 2023 untuk mendirikan Moonshot AI. Startup ini mengumpulkan dana lebih dari USD 2 miliar dari para investor termasuk Meituan, China Mobile, dan CPE. Total pendanaan kumulatifnya melampaui USD 5,5 miliar, sementara valuasi perusahaannya mencapai sekitar USD 0 miliar pada bulan Juni menurut laporan Reuters.

The Telegraph juga melaporkan valuasi yang sama, yang memberi Yang kepemilikan saham bernilai miliaran dolar. Dalam wawancara tahun 2024 dengan jurnalis teknologi China, Yang mengatakan tujuannya adalah mengubah dunia dalam 10 hingga 20 tahun ke depan dengan membangun perusahaan yang mampu memimpin generasi AI berikutnya.

Peluncuran Kimi K3 sempat mengguncang pasar keuangan global. Aksi jual yang dipicunya menghapus ratusan miliar dolar nilai saham teknologi utama AS, termasuk Google dan Nvidia. Para analis menyamakan reaksi pasar ini dengan disrupsi yang dipicu oleh terobosan DeepSeek awal tahun ini.

Fenomena AI China ini menjadi pengingat bahwa persaingan teknologi global semakin ketat. Di sisi lain, perkembangan AI juga membawa tantangan baru. Sebelumnya, AI influencer palsu telah terbukti menjerat pengguna di platform media sosial, menunjukkan bahwa teknologi ini membutuhkan pengawasan yang lebih serius.

Kebangkitan AI China juga berdampak pada lanskap bisnis global. Ketika perusahaan-perusahaan AS seperti X Money milik Elon Musk berinovasi di sektor finansial, para pemain AI China justru fokus pada efisiensi biaya dan aksesibilitas model open source.

Implikasinya bagi industri teknologi global sangat jelas: model AI yang terjangkau dan terbuka akan semakin mendominasi pasar. Para pengembang dan perusahaan di seluruh dunia kini memiliki lebih banyak pilihan, tidak lagi terbatas pada produk-produk dari Silicon Valley. Persaingan ini pada akhirnya akan menguntungkan konsumen, dengan harga yang lebih kompetitif dan inovasi yang semakin cepat.